| PIYUNGAN ONLINE Portal Berita, Politik, Dakwah, Dunia Islam, Kemasyarakatan, Keumatan | Pintu Gereja di Bantul Dibakar, Warga Muslim Gotong Royong Padamkan Api | | 8:50:17 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
|  | | Pintu Gereja Baptis Indonesia Saman di Bantul dibakar (foto: merdeka.com) |
Warga di Dusun Saman, Desa Bangungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, bahu-membahu memadamkan api yang berkobar di depan pintu Gereja Baptis Indonesia Saman, Senin dini hari (20/7).
"Kemarin sekitar pukul 02.30 WIB dini hari, warga yang tinggal di sebelah Gereja Baptis Indonesia Saman melihat ada api. Ternyata ada ban terbakar yang digantung di pintu gereja. Ban itu sudah lebih dulu disiram bensin," kata Kabid Humas Polda DIY AKBP Any Pudjiastuti kepada CNN Indonesia, Selasa (21/7).
"Tetangga yang pertama kali mengetahui ada api di gereja itu muslim. Rumahnya memang di sebelah gereja. Dia langsung memberi tahu warga lain dan mereka bersama-sama memadamkan api," ujar Any. (Baca juga: Selain Bantul, Pembakaran Gereja di Purworejo Juga Digagalkan)
Menurut Any, api tak sampai merusak pintu apalagi bangunan gereja. Pintu hanya hangus. Saat ini gereja tersebut dijaga oleh petugas dari Polsek dan Komando Rayon Militer Sewon.
Tetangga samping Gereja Baptis Indonesia Saman, ujar Any, sesungguhnya melihat ada orang lalu-lalang sebelum api terlihat di depan gereja. Namun dia tak menaruh curiga sedikit pun. Dia baru sadar ada yang tak beres setelah anaknya berteriak "Gereja kebakaran."
"Maka warga bersama-sama memadamkan api, tak peduli muslim atau nonmuslim," kata Any.
Kepolisian setempat dalam kondisi siaga satu. "Siaga satu memang sudah sejak 9 Juli sebelum lebaran. Kami all out di lapangan. Patroli ditingkatkan. Pengamanan di seluruh objek vital, bukan hanya pusat perbelanjaan atau wisata," ujar Any.
Ia mengimbau kepada masyarakat yang melihat hal-hal mencurigakan agar segera melapor ke polisi supaya petugas dapat langsung bertindak. Polres Bantul juga mengingatkan, Yogya adalah kota toleransi sehingga warga harus saling menghormati dan tak boleh mudah terprovokasi.
Sumber: CNN Indonesia
|
| TPF Tolikara Dipimpin Ust Fadlan Garamatan Akan Investigasi dan Menyusun Kronologi Sesuai Fakta | | 8:28:38 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
|  | | Ketua Harian Komite Bachtiar Nasir (kiri) melepas TPF Tolikara yang dipimpin Ust Fadaln Garamatan (kanan) |
Komite Tolikara Terbentuk, Tim Pencari Fakta (TPF) Langsung Dikirim Hari Ini Jakarta - Untuk membantu pengungkapan dan pembangunan kembali bangunan tempat ibadah, ruko, kios, dan tempat tinggal yang hangus akibat ulah Kelompok Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) di Tolikara, Papua, sebuah Tim Pencari Fakta (TPF) hari ini (Selasa (21/7/2015) diberangkatkan ke Pulau Cendrawasih itu. TPF yang dipimpin ustadz Fadlan Garamatan, terbang ke Papua bersama 7 anggota Tim dari berbagai latar belakang ilmu.
Sesuai rencana, sesampai di TKP, seluruh anggota TPF akan melakukan beberapa tugas berat diantaranya menyusun kronologi sesuai aslinya. Kenapa disebut kronologi sesuai aslinya, karena hingga hari ini, ada beberapa upaya dari pihak tertentu yang mencoba membelokkan arah opini kepada publik. Pembelokan opini ini jelas sangat merugikan karena fakta yang ada di lapangan menjadi kabur.
Beberapa informasi yang simpangsiur akibat pembelokan opini itu diantaranya seputar keabsahan surat dari Gereja Injili Di Indonesia yang berisi larangan merayakan Iedul Fitri, Larangan Berlebaran dan Larangan mengenakan jilbab. Surat resmi yang dilengkapi tandatangan oleh Presiden GIDI Pdt Nayus Wenda dan Sekretarus GIDI Marthen Jingga itu, mulai dikabarkan sebagai dokumen illegal. Padahal, faktanya Polisi dan Bupati sudah menerima surat yang dimaksud. Bahkan, akibat surat super intoleran ini, kemudian memicu pembakaran Mesjid dan Ruko serta kios dan rumah tinggal.
Selain itu, ada pihak lain yang juga mencoba membalik fakta, diantaranya bahwa baik tempat ibadah, ruko maupun kios yang ludes karena api, konon disebabkan oleh ketidak sengajaan. Yang lebih parah lagi, pihak Gereja kini mencoba menyalahkan Kepolisian dan aparat lainnya yang dianggap tidak mampu mengendalikan situasi sehingga aparat malah menembak anggota Gereja hingga tewas. Sebagai alibi, akibat tembakan itulah kemudian api kemarahan tersulut sehingga mengakibatkan terbakarnya Mesjid. Dengan kata lain, massa sebenarnya tidak ingin membakar Mesjid, namun api yang disulut massa ke kios, merembet ke Mesjid.
Selain itu, masih banyak informasi lain yang cenderung menyesatkan masyarakat dan mengadudomba antara Kepolisian, TNI dan masyarakat, sehingga jika dibiarkan maka ulah segelintir oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab itu sangat berpotensi menyulut kemarahan masyarakat yang lebih luas terhadap pihak Gereja Injili dan bahkan sangat berpotensi memperluas korban. Yang semula korban adalah dari pihak Mesjid, nantinya akan meluas ke pihak lain.
Sekedar informasi, pemberangkatan TPF ke Papua adalah salahsatu program kerja dari Komite Umat untuk Tolikara Papua (Komat Tolikara) yang telah terbentuk pada 19 Juli 2015 di Jakarta. Komite ini sendiri tebentuk setelah terjadi pertemuan besar para Tokoh Nasional diantaranya Arifin Ilham, Yusuf Mansur, Hidayat Nurwahid, Didin Hafidhudin, Bahtiar Nasir, Aries Mufti, Muhammad Zaitun Rasmin, dan lain sebagainya.
Pada pertemuan itu, para Tokoh sepakat menunjuk Bahtiar Nasir sebagai Ketua Harian Komite. Sementara Muhammadi Zaitun Rasmin menjabat sebagai Wakil Ketua. Sementara, Didin Hafidhudin diangkat sebagai Ketua Dewan Syura, dan Arifin Ilham, Yusuf Mansur, Hidayat Nurwahid, Bahtiar Nasir, Aries Mufti, Bobby Herwibowo menjadi anggota Dewan Syura. Nama lain diantaranya Haikal Hassan sebagai Sekretaris, Nur Effendi dan Irfan Syauqi Beik ditunjuk sebagai Bendahara. Sementara itu, Jeje Zaenuddin ditunjuk sebagai Tim Advokasi. Segudang tokoh bergabung dalam Komite diantaranya Ahmad Djuwaini, Arifin Purwakananta, Fahmi Salim, dan lain sebagainya. Dalam Komite ini, Mustofa B. Nahrawardaya dan Adnin Armas ditunjuk sebagai Juru Bicara.
Dalam program lain, Komite bersama Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, BAZNAS (Badan Amal Zakat Nasional), Forum Zakat, dan lain-lain, sudah memulai mengumpulkan dana masayrakat untuk program pembangunan fisik dan non fisik di Tolikara. Melalui Program bertagline "Damai Tolikara Damai Papua", penggalangan dana ini diharapkan mendapat respon positif masyarakat luas agar pembangunan kembali Tolikara bisa segera dilakukan dalam waktu dekat.
NB: Untuk mendapatkan informasi lanjutan, atau interview seputar aktifitas dan kegiatan Komite, bisa menghubungi Juru Bicara Komite 0811 8668 323, 0813 9886 3790 atau WA 0813 8434 9622.
|
| Ini Kondisi Masjid Baitul Muttaqin Tolikara Sebelum Dibakar Massa GIDI | | 8:02:59 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Masjid Baitul Muttaqin adalah masjid satu-satunya di Karubaga, Ibukota Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua.
Masjid Baitul Muttaqin kini tinggal puing-puing dan papan nama setelah massa dari jemaat GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) membakar masjid, 38 rumah, dan 63 kios tepat di hari Idul Fitri 1436 H saat Umat Islam tengah menjalankan Sholat Id.
Berbagai organisasi Islam dan lembaga kemanusiaan kini tengah mengumpulkan donasi untuk membangun kembali masjid Baitul Muttaqin.
Salah satu lembaga kemanusiaan yang sudah mengumpulkan donasi adalah BSMI Jayawijaya yang sampai kini sudah terkumpul dana Rp 277 juta.
"Di Idul Fitri masjid dibuat dari kayu dibakar di Tolikara maka hadiah Allah adalah bangun masjid permanen yg lebih besar," ujar ustadz Fadlan Garamatan, dai Papua yang telah 20 tahun berdakwah di bumi cenderawasih.
|
|
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !