| PIYUNGAN ONLINE Portal Berita, Politik, Dakwah, Dunia Islam, Kemasyarakatan, Keumatan | Ustad Fadlan Garamatan Pimpin Sholat Jumat Perdana Pasca Tragedi Idul Fitri Tolikara | | 8:29:25 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| TOLIKARA - Alhamdulillaah. Setelah sepekan Tragedi Idul Fitri, shalat Jumat kembali dilaksanakan di Tolikara. Imam serta khatib oleh Ustadz Fadlan Rabbani Garamatan, Ketua Tim Pencari Fakta dari Komite Umat untuk Tolikara.
Dilansir Republika.co.id, Pengungsi korban terbakarnya rumah kios (ruki) beserta masjid di Pasar Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua menjalankan ibadah shalat Jumat dengan khusyu. Meski tidak dijaga ketat oleh petugas, shalat berakhir dengan lancar di dalam lingkungan kantor Koramil Karabuga, Jumat (24/7) pukul 12:35 WIT.
Khotbah Jumat diisi oleh Ustaz Fadlan Garamatan didampingi muazin dari suku Asmat asal Merauke, Abdus. Ibadah Shalat Jumat berlangsung selama 25 menit dan dihadiri oleh masyarakat muslim Wamena, Komandan Korem Jayapura, Koramil Karubaga, dan Kapolres Karubaga. Diperkirakan jamaah yang turut hadir Shalat Jumat sekitar kurang lebih 60 orang.
Dalam khotbah Jumatnya Ustaz Fadlan menyampaikan, Allah telah menciptakan manusia dari berbagai suku dan bangsa dengan rupa yang bemacam-macam. Manusia tercipta disertai akal.
''Semoga Shalat Jumat kali ini menjadi Shalat Jumat terbaik di hadapan Allah SWT,'' katannya seperti dilaporkan reporter Republika.co.id dari Tolikara.
Dahulu, dia menuturkan, para pejuang bangsa Indonesia yang berperang dengan membawa bambu runcing telah melahirkan Piagam Jakarta. Dimana atas berkat rahmat Tuhan didorong oleh keinginan leluhur untuk kehidupan kebangsaan yang bebas.
"Hari ini kita di Tolikara beribadah dengan tenang memuji Allah, bersyukur kepada Allah sebagaimana panji Rasulullah SAW. Semoga panji ini menjadi pencerahan dan kecerdasan guna membuat muslim untuk lebih taat kepada Allah, takwa menjalankan perintah-Nya dan menghindari dari kemungkaran," katanya.
Hari ini relawan berkumpul dari seruluh Indonesia bertujuan membangun Tolikara. Dengan satu visi besar untuk mencerahkan dan menncerdaskan agar Tolikara menjadi masyarakat makmur dan damai. Serta untuk membangun Tolikara yang lebih baik.
"Melangkah dengan kemakmuran, kedamaian, kesahajaan serta melangkah lebih baik untuk Negeri Indonesia tercinta agar Tolikara esok kedepan menjadi bagian Indonesia yang melahirkan generasi bangsa yang lebih baik," ungkap dai pedalaman Papua itu.
Diketahui sebelumnya, pada Jumat pekan lalu (17/7) tepat di Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H, sekitar 500 massa dari jemaat Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) membubarkan secara paksa jamaah umat Islam Tolikara yang sedang melaksanakan sholat Ied. Tak hanya melempari batu, massa GIDI membakar kios, rumah, dan masjid Baitul Muttaqin hingga ludes.
|
| Imam Sholat Id Tragedi Tolikara: Rumah, Kios dan Seluruh Harta Ludes | | 8:06:21 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| TRAGEDI pelemparan batu dan pembakaran kios yang menjalar ke rumah warga hingga Mushollah Baitul Muttaqin saat sholat Idul Fitri sedang berlangsung di Karubaga, Tolikara, Jum'at (17/07/2015) pekan lalu, itu menyisakan kesedihan dan trauma yang mendalam bagi sebagian korban.
Salah satunya adalah putra dari Ali Muchtar (imam sholat Idul Fitri) yang berusia 13 tahun. "Putra saya yang umur 13 tahun itu sampai sekarang masih mengalami trauma, namanya Dimas Firmansyah," kata Siti Suma'ah, istri dari Ali Muchtar kepada JITU di salah satu mess koramil Tolikara, Kamis (23/7/2015).
Siti menuturkan, kalau siang hari putranya itu tidak begitu terlihat ketakukan, tetapi saat malam kadang-kadang putranya masih susah tidur dan merasa ketakutan. Laporkan iklan?
"Kalau malam susah tidur, pindah ke sana pindah ke sini, lihat jendela," kata Siti.
Siti menegaskan, bahkan selama dua hari pasca kejadian itu, pada siang hari putranya sering mengigau sendiri dan takut jika melihat segerombolan orang. "Itu begitu karena putra saya trauma toh," kata Siti.
Selain itu, Siti mengungkapkan, dari tragedi tersebut semua harta yang ia miliki ludes ikut terbakar seperti kios dan rumah seisinya.
"Saya keluar rumah untuk sholat Ied itu tidak membawa apa-apa. Namanya sholat cuma bawa baju yang melekat di badan sama mukena toh," katanya dengan raut wajah lesu.
Hingga berita ini diturunkan, Siti beserta keluarganya masih ikut menumpang di salah satu mess Koramil Tolikara. Rencananya, ia akan mengunjungi putranya yang ada di kota Malang untuk memeriksa putranya yang sampai saat ini masih trauma.
"InsyaAllah saya mau pulang ke Jawa untuk memeriksakan anak saya," pungkas Siti. [Laporan Achmad Fazeri/JITU]
Sumber: islampos.com
|
|
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !