| PIYUNGAN ONLINE Portal Berita, Politik, Dakwah, Dunia Islam, Kemasyarakatan, Keumatan | 3 FAKTA Gereja Bantul Yang "Dibakar" [Penuturan Tetangga Gereja] | | 8:40:31 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
|  | | Kondisi Gereja pasca "dibakar" - dokumentasi pribadi Moris |
*Laporan oleh: Moris, Bantul
Hari ini (21/7) beberapa media senang sekali karena punya berita seksi dengan judul: "Gereja di Bantul, Yogya dibakar".
Kebetulan lokasi gereja itu ada di dekat rumah saya, kampung sebelah (Bangunharjo, Sewon, Bantul, DIY). Ini dokumentasi pribadi, langsung dari TKP.
Faktanya:
(1) Gereja ini masih bermasalah dengan IMB (ilegal?), sudah ditentang umat Islam sekitar & FJI.
Agar obyektif, ini link beritanya langsung dari blog resmi Polres Bantul: http://humaspolresbantul.blogspot.com/2015/07/massa-fji-datangi-gereja-gbi-saman.html
(2) Gereja ini masih utuh. Berbeda dengan Masjid di Tolikara dibakar itu artinya tinggal papan nama. Bahkan ada media online memuat berita dengan ilustrasi gambar seolah2 gereja full terbakar.
(3) Pelaku percobaan pembakaran saat ini masih dalam penyelidikan (OTK) jadi tidak perlu berasumsi, berbeda dengan di Tolikara pelaku sudah jelas (massa jemaat GIDI -red) tapi belum juga ditangkap.
Jadi pembaca cerdas sudah bisa membedakan "dibakar" versi Tolikara - Papua dengan "dibakar" versi Bantul - Yogya?
|
| Tolikara, Kota Kecil Tapi Bendera Israel Bertebaran | | 8:21:57 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
|  | | Seorang relawan dengan back-round bendera Israel di sebuah kios di Tolikara |
Kabupaten Tolikara merupakan bagian dari Provinsi Papua dengan luas sekitar 5.234 KM2. Tolikara yang diapit Kabupaten Puncak Jaya, Kabupaten Jawawijaya Kabupaten Sarmi dan Kabupaten Jayawijaya merupakan kabupaten baru hasil pemekaran pasca hadirnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus.
Kabupaten Tolikara yang beribukota di Karubaga terbagi dalam 514 Desa dan 35 Kecamatan. Meski demikian, jangan bayangkan desa di daerah layaknya di Jawa. Sebab, satu desa kadang hanya puluhan rumah.
Komoditi unggulan Kabupaten Tolikara yaitu sektor pertanian dan jasa. Sub sektor Pertanian komoditi yang diunggulkan berupa Jagung dan Ubi Kayu.
Yang menarik, meski merupakan tempat terpencil dan akses masih sulit, beberapa pihak mengatakan, pesawat milik orang asing bisa datang dan pergi seenaknya.
Sebagai penunjang kegiatan perekonomian, di wilayah ini tersedia 1 bandar udara, yaitu Bandara Bokondini, namun beberapa saksi yang ditemui hidayatullah.com, banyak bandara khusus orang asing yang hilir mudik tidak bisa terpantau.
"Di sini banyak pesawat asing datang dan pergi tidak terpantau. Karena aparat di sini sedikit," demikian ujar salah seorang aparat yang tak mau disebutkan namanya kepada hidayatullah.com.
Yang tidak kalah menarik, banyak bendera-bendera Israel jadi pajangan warga. Pantauan hidayatullah.com, mudah dijumpai kios-kios warga dihias mengikuti bendera Israel biru-putih bergambar Bintang David.
Kebetulan, saat beberapa jam menginjakkan kaki di Tolikara pertama kali hari Senin (21/07/2015) media ini bisa menyaksikan ramainya masyarakat luar Tolikara mengikuti arak-arakan penutupan kegiatan seminar dan KKR Pemuda GIDI tingkat internasional yang diselenggarakan sejak tanggal 13 Juli 2015.
Diperkirakan sekitar 7000 orang mengikuti arak-arakan, dan sebagian banyak mengibarkan bendera Israel.
Sementara itu, banyak warga lokal sendiri masih kurang memahami arti bendera-bendera Israel tersebut.*/Abu Fathun
*Sumber: http://m.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2015/07/22/74384/tolikara-kota-kecil-tapi-bendera-israel-populer.html#
Baca juga: Gereja Injili Pembakar Masjid di Papua Miliki Program Kerjasama dengan Israel
Jadi tahukan, kenapa masalah Tolikara-GIDI ini berbelit-belit. Bahkan sampai Menteri Tedjo "membela", "meng-amini" dan seperti jadi Jubirnya GIDI.
(Baca: PEMBOHONG ITU BERNAMA PENDETA DORMAN WANDIKMBO (PRESIDEN GIDI))
|
| Imam Masjid Tolikara: Untuk Bangun Tempat Wudhu Harus Izin Gereja | | 8:04:27 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
|  | | Pemberian dana peduli dai dan imam masjid di Tolikara |
Ali Muchtar (38 tahun) merupakan imam Masjid Baitul Muttaqin Tolikara. Ia menetap di sana sejak 2006. Sampai sekarang ia aktif sebagai imam Masjid tersebut.
Diceritakan Ali dulunya tempat sholat itu berupa mushalla berukuran 5×5 meter. Kemudian diperbesar menjadi 11×11 meter dan menjadi masjid. Pembangunan tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat. "Sekalipun belum permanen, masjid ini menjadi satu-satunya masjid yang menjadi pusat kegiatan umat Islam di Tolikara," ungkapnya, lansir ROL.
Meski begitu, ia menuturkan kalau untuk berdakwah di Tolikara tidak mudah. Harus dengan mengikuti keinginan penduduk setempat.
"Untuk membangun tempat wudhu saja harus minta izin ke pihak Gereja Klasis Tolikara," ujarnya, mencontohkan.
Kini Ali bersyukur sebab di Tolikara terdapat lembaga amil zakat nasional (Laznas) seperti Baitul Mal Hidayatullah (BMH). Saat Ramadhan lalu, ada penyerahan dana bantuan peduli dai dan imam masjid. Juga dilakukan pengumpulan dana peduli dai dan imam masjid.
Sumber: fimadani
|
|
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !