| PIYUNGAN ONLINE Portal Berita, Politik, Dakwah, Dunia Islam, Kemasyarakatan, Keumatan | Tokoh-tokoh Islam Bentuk Komite Umat untuk Tolikara Papua | | 6:52:50 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Tragedi pelarangan perayaan Idul Fitri yang diikuti pembakaran masjid, rumah dan kios milik Umat Islam di Tolikara Papua pada Jumat 1 Syawal 1436 H (17/7) telah menimbulkan simpati Umat Islam di tanah air untuk membantu para korban. Tercatat 1 masjid, 38 rumah, 63 kios ludes terbakar. 153 umat Islam masih mengungsi.
Guna membantu para korban Tragedi Tolikara, tokoh-tokoh umat Islam telah bertemu dan membentuk Komite Umat untuk Tolikara Papua (KUTP) pada Ahad (19/7) kemarin.
Diantara tokoh-tokoh yang tergabung KUTP adalah Arifin Ilham, AA Gym, KH Didin Hafiduddin, Bachtiar Nasir, Hidayat Nur Wahid.
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI Hidayat Nur Wahid mengajak umat Islam membantu masyarakat Muslim di Tolikara. Bantuan dimaksudkan untuk membangun kembali masjid dan kios-kios mereka yang rusak dan terbakar
"Saya mengajak para ustadzah yang membina majelis taklim untuk menunjukkan kepedulian kepada saaudara-saudara kita yang terkena musibah di Tolikara. Bantuannya bisa dalam bentuk apa saja. Bisa sumbangan dana untuk membangun masjid, juga bisa bantuan doa agar saudara-saudara kita dapat kuat menghadapi cobaan ini," kata Hidayat dalam acara silaturahim Idul Fitri dengan para ustadzah pimpinan majelis taklim se-Jabotabek di rumah dinas Wakil Ketua MPR, Kemang, Jakarta Selatan, Senin (20/7), seperti dilansir ROL.
Komite Umat untuk Tolikara Papua juga akan melakukan investigasi independen dan komprehensif atas Tragedi Tolikara.
***
dari fb Aan Widya Sattvikantara (19/7):
Alhamdulillah terbentuk Komite Umat untuk Tolikara Papua.
Pak Mustofa B. Nahrawardaya ditunjuk sebagai Jubir. Insya Allah segera Membangun Mesjid yg dibakar Gereja Injili Di Indonesia (GIDI).
Salah satu hasil pertemuan para ulama nasional, mendesak pemerintah melalui BNPT dan Densus 88 agar segera menindak aksi teror yg dilakukan GIDI.
Poin-point yg di sampaikan ulama semalam akan di bicarakan di konfrensi pers pada siang ini. Kemudian malam hari nanti, sejumlah media (media cetak & media elektronik) akan berangkat bersama ustadz Fadlan Garamatan menuju ke Tolikara Papua untuk melakukan investigasi tuk mengungkap fakta sesungguhnya di lapangan.
|
| Saat Papua Masih Berduka, Presiden Jokowi Cekikikan Nonton Bioskop Film Komedi. Apa Pantas? | | 6:49:52 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Di hari lebaran ke 3 atau H+3 ini Jokowi bersama keluarga besarnya menonton film Comic 8: Casino King, Minggu malam (19/07) di Mall Paragon Solo.
Di saat tragedi Tolikara Papua masih belum selesai ditangani, Presiden Jokowi malah asik ke bioskop nonton film komedi 'Comic 8'.
Presiden Jokowi memborong 30 tiket untuk nonton bareng bersama keluarga besarnya di Cinema XXI Solo Paragon Mall.
Publik social media menilai Presiden Jokowi tak punya empati, disaat tragedi Tolikara Papua belum terselesaikan, dimana sebanyak 153 orang masih mengungsi setelah 38 rumah, 63 kios dan masjid dibakar massa GIDI pada Jumat (17/7) kemarin.
"Percuma ada laporpresiden.org kalo pas lagi ada konflik presidennya malah asik nonton film. Keren kan." cuit netizen @gatse8.
"Hanya psikopat yg nonton film komedi sementara anaknya kesetrum listrik...!!" singgung @ypaonganan.
"Katanya presiden wong cilik. ko wong cilik lgi menderita presidennya gembira??.. #Gila" komen @nadanet02.
"Ada yg tertawa. Ada yg menangis #PemimpinAbal2" cuit netizen @Laskar_RI.
"Ratusan pengungsi muslim papua meringkuk dlm dingin dan ketakutan pasca pembakaran, semntr presiden cekikikan menonton bioskop. Apa pantas?" ungkap netizen yang lain.
Bahkan tokoh motivator nasional Jamil Azzaini ikut prihatin dengan sikap Presiden Jokowi yang tak peka dengan penderitaan rakyat.
Melalui akun twitternya @JamilAzzaini, Pendiri Akademi Trainer ini menulis:
01. Pak @jokowi maaf jika saya harus menyampaikan hal ini lewat social media karena saya tak punya akses langsung ke bpk
02. Sedih saya membaca ini. Dikala Papua berduka, di NTT ada kelaparan bpk justeru menonton
03. Saya tahu, menonton adalah hak setiap warga negara. Tetapi ada "rasa" yg perlu bapak @jokowi jaga sebagai presiden
04. Tentu seyognyanya bapak @jokowi punya rasa empati yg tinggi karena sering blusukan. Tapi maaf pak...
05. Menonton film lucu disaat ada kejadian yg melukai rakyat yg bapak @jokowi pimpin tentu bukan bentuk empati pak
06. Bapak @jokowi orang Solo tentu hati dan rasa empatinya tentu seharusnya lebih peka terhadap "perasaan" orang lain
07. Saya tidak hendak mengajari bapak @jokowi tentang "perasaan" rakyat. Bpk pasti lebih paham dibandingkan saya
08. Semoga kesediaan bpk @jokowi nonton film lucu ditengah2 perasaan sebagian rakyat yg terluka bukan kesengajaan
09. Maaf pak @jokowi saya tdk sanggup meneruskan kultwet ini. Semoga "perasaan" bpk untuk selanjutnya lebih peka
10. Maaf bila ada yg kurang berkenan pak @jokowi doa saya untuk kebaikan bapak
|
| Din Syamsuddin: Aparat Tidak Usah Banyak Teori, Segera Tangkap Pelaku Ekstrimis Tolikara | | 6:49:07 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengecam keras Tragedi Tolikara dimana massa dari GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) melarang dan membubarkan umat muslim saat salat Idul Fitri di Tolikara, Papua, Jumat (17/7) lalu. Tercatat 38 rumah, 63 kios dan satu-satunya masjid dibakar massa GIDI. Sedang 153 umat Islam Tolikara masih mengungsi.
Din meminta tindakan tersebut tidak ditolerir supaya tidak terulang kembali.
"Tidak ada kata lain kecuali kita harus mengecam sekerasnya tindak kekerasan atas nama agama dan menyerang kelompok agama lain," ujar Din di kediaman Ketua DKPP Jimly Asshiddiqie, Komplek Pondok Labu Indah, Jakarta Selatan, Minggu (19/7/2015), seperti dilansir detik.com.
"Saya minta kepada seluruh umat berbagai agama mengecam tindakan ini. Sekali ini kita tolerir maka akan terulang kembali. Kita harus zero tolerant," tegasnya.
Untuk itu pun, Din mendesak pihak penegak hukum untuk segera mengusut tuntas kasus tersebut sampai ke akar-akarnya. Sebab menurutnya bentuk penyerangan oleh sekelompok itu terbilang ekstrim berlapis-lapis.
"Kita mendesak Polri segera menindaktegas harus ada yang ditangkap dan jalur hukum. Nggak usah banyak teori semisal ada faktor apa gitu, tapi yang jelas ini bentuk ekstrimisme yang nyata," kata Din.
"Dan bahkan tindakan itu dilakukan ketika menunaikan ibadat, maka tingkat ekstrimenya sangat tinggi," lanjut Din, dikutip Vivanews.
Namun, dia meminta umat Islam tidak perlu balas dendam terhadap penyerangan tersebut. "Tidak perlu memberikan reaksi apalagi balas dendam, tunjukanlah bahwa umat Islam adalah kelompok yang selama ini menampilkan toleransi sejati," ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia ini.
"Menahan diri apalagi pada saat Idul Fitri semacam ini karena terus terang kalau ini aksi kekerasan dibalas kekerasan hancur negara ini, namun harus segera pemerintah dan aparat mengambil langkah hukum," lanjut Din.
Menurut dia, tidak akan ada kerukunan di Indonesia kalau umat Islam yang mayoritas tidak toleran. "Maka mohon kepada pihak-pihak siapapun jangan memberi predikat bahwa umat Islam tidak toleran, tidak mungkin ada toleransi di negeri ini kalau umat Islam tidak toleran," tutupnya.
Din Syamsuddin dikenal sangat kritis terhadap tindak tanduk aparat khususnya Densus 88 ketika berhadapan dengan ummat islam, Din kerap mengkritik arogansi Densus ketika menangkap atau menindak ummat islam yang diduga sebagai pelaku terorisme, puncaknya adalah ketika aparat densus 88 melakukan salah tangkap kepada dua warga muhammadiyah Tulungagung yang dituduh sebagai teroris seketika itu Din memberikan ultimatum kepada Densus 88 untuk membebaskan warga muhammadiyah yang ditangkap dan kemudian akhirnya Densus 88 melepaskannya.
Sumber: detik.com, viva.co.id
|
| Renungan Cak Nun: "Islam Yang Harus Salah" | | 6:06:32 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| [Walaupun tulisan ini adalah tulisan lama, tidak jenuh rasanya membaca petuah Cak Nun, yang sampai hari ini masih sangat pas menggambarkan perlakuan terhadap Islam. Contoh terbaru dalam Tragedi Tolikara yang menimpa Umat Islam Papua]
Cak Nun:
KALAU ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Kemenag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas.
Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas, asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam - harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru wajar namanya.
Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau Amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.
"Agama" yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaiman yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.
Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan Islam.
Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlese dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.
Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur'an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.
Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: "Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang etnis 'gitu."
Lho kok Arab bukan etnis?
Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama- sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.
Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah "Yarim Wadi-sakib.", itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.
Itulah matahari baru yang kini masih semburat. Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradaban yang fasiq dan penuh dhonn (prasangka) kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap menjadi gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.
"Al-Islamu mahjubun bil-muslimin". Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri.
Endapan-endapan dalam kalbu kollektif ummat Islam itu, kalau pada suatu momentum menemukan titik bocor - maka akan meledak. Pemerintah Indonesia kayaknya harus segera merevisi metoda dan strategi penanganan antar ummat beragama. Kita perlu menyelenggarakan 'sidang pleno' yang transparan, berhati jernih dan berfikiran adil. Sebab kalau tidak, berarti kita sepakat untuk menabuh pisau dan mesiu untuk peperangan di masa depan.
__ *Dari buku "Iblis Nusantara Dajjal Dunia" karya Emha Ainun Nadjib ("Saya Anti Demokrasi" Oleh: Emha Ainun Nadjib -- versi Audio di soundcloud)
|
|
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !