Headlines News :
Home » » PIYUNGAN ONLINE

PIYUNGAN ONLINE

Written By Unknown on Sunday, July 19, 2015 | 6:52 PM

Your RSS feed from RSSFWD.com. Update your RSS subscription
RSSFWD
PIYUNGAN ONLINE

PIYUNGAN ONLINE

Portal Berita, Politik, Dakwah, Dunia Islam, Kemasyarakatan, Keumatan

Reaksi 'Marah' Umat Islam atas Tragedi Masjid Tolikara | Oleh Kyai Achyat Ahmad
9:38:49 PMPIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com

Reaksi Umat Islam atas Tragedi Masjid Tolikara 

Oleh Kyai Achyat Ahmad
(Pengasuh dan pengajar Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jatim)

Telah sampai kepada Rasulullah SAW bahwa Sa'ad bin Ubadah berkata: "Jika kudapati istriku bersama seorang lelaki, maka akan kupenggal lehernya!"

Maka Rasulullah SAW pun bersabda: "Apakah kalian heran dengan kecemburuan (ghirah) Sa'ad? Sungguh aku lebih pencemburu daripada Sa'ad, dan Allah lebih pencemburu daripada aku, dan karenanya Allah mengharamkan hal-hal yang keji..."

Dalam konteks itulah saya melihat reaksi sebagian besar umat Islam yang marah terhadap pembakaran Masjid di Tolikara pada saat salat Idul Fitri dilaksanakan beberapa waktu yang lalu itu.

Sikap marah yang ditunjukkan oleh umat Islam dengan levelnya yang beragam, yang barangkali level terrendahnya adalah dengan marah-marah di sosial media, adalah hal wajar dan bahkan seharusnya.

Karena itu kita patut bertanya kepada sebagian kecil umat Islam yang justru bersikap 'kritis' (atau lebih pasnya nyinyir) menanggapi pembakaran masjid itu. Kita patut bertanya dimanakah ghirah Islamiyah mereka? Bukankah ghirah itu bagian dari iman, dan orang yang tak punya ghirah berarti imannya tidak sempurna, sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis?

Tentu, ghirah Islam tak harus dihadapkan pada pandangan objektif dan sikap adil seseorang. Karena setiap kita pasti mendorong aparat penegak hukum untuk mengadili setiap orang yang terlibat dalam tindakan anarkhis itu, termasuk mereka yang menyulut konflik, bahkan jika seandainya itu adalah seorang Muslim sekalipun.

Namun masalahnya barisan orang-orang 'kritis' ini tampaknya memang tak pernah berada di pihak umat Islam. Dalam konflik Israel vs Palestina, misalnya, tentu sudah jelas siapa penjajah dan siapa terjajah; siapa penindas siapa tertindas. Namun faktanya masih sempat-sempatnya mereka bersikap 'kritis' (nyinyir -red) dan mengecam tindakan Hamas.

Dalam berbagai ketegangan sekte-sekte dan keagamaan yang terjadi di Indonesia tentu bukanlah pengecualian bagi mereka. Umat Islam vs Kristen, mereka di pihak Kristen. Islam vs Ahmadiah, mereka di pihak Ahmadiah. Umat Islam vs pendukung LGBT, mereka di pihak LGBT. Umat Islam vs pornografi, mereka di pihak pornografi, dan begitu seterusnya; mereka selalu berada di pihak yang berseberangan dengan mayoritas umat Islam.

Saya jadi bertanya, adakah memang begitu sikap dan pemikiran orang-orang yang mengaku "tercerahkan" itu?

Tapi ngomong-ngomong soal "tercerahkan", saya jadi teringat salah satu twitt Pak Zuhairi yang menulis begini: "Sewaktu kuliah di Mesir, saya bertemu dengan seorang pastur. Dia bertanya pada saya: 'Zuhairi, apakah Tuhan itu beragama?' Saya diam. Dan sejak saat itu saya tercerahkan."

Twitt Pak Zuhairi itu lalu ditanggapi oleh seseorang via akun twitternya begini: "Zuhairi, apakah iblis itu beragama? Jika Anda diam berarti Anda sudah tercerahkan."

Sumber: fb

***

"Saya blm temukan kecaman thdp kasus Papua dari orang2 yg suka berikan tambahan nama thdp Islam (Islam Nusantara, Islam Liberal -red) . Klo agama lain terganggu biasanya lgsg bela" -Muhammad Said Didu @saididu-




Mantan Ketum GP Ansor: "Banser Sibuk Jaga Gereja, Lupa Tugas Utama Jaga Masjid"
9:22:14 PMPIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com

Serangan terhadap umat Islam saat shalat Id dan pembakaran Masjid Baitul Muttaqin di Tolikara, Papua, saat hari raya Idul Fitri 1436 H (17/7/2015) menyentak semua pihak.

Atas tragedi pembakaran masjid ini, mantan Ketua Umum GP Ansor, Khatibul Umam Wiranu menyayangkan Ansor dan Banser yang dinilainya melupakan tugas utama menjaga masjid.

"Ansor dan Banser sibuk jaga gereja saat acara ritual dan kebaktian umat kristiani sampai-sampai melupakan tugas utama menjaga ulama dan masjid," kata Khatibul Umam.

"Peristiwa pembakaran tempat shalat idhul fitri oleh siapapun harus jadi introspeksi pemimpin ansor dan banser agar tidak lupa akan tujuan pendirian ansor dan banser," lanjutnya.

Berikut selengkapnya pernyataan dan seruan mantan Ketua Umum GP Ansor, Khatibul Umam Wiranu, sebelum era Nusron Wahid yang dilansir NUGarisLurus.Com, Ahad (19/7):

Seruan untuk para pimpinan GP Ansor dan Banser atas peristiwa pembakaran tempat ibadah umat Islam oleh orang-orang yang tidak senang terhadap Islam:

Ansor dan Banser sibuk jaga gereja saat acara ritual dan kebaktian umat kristiani (mungkin ada bayarannya di dunia) sampai-sampai melupakan tugas utama menjaga ulama dan masjid (mungkin tidak ada bayarannya di dunia).

Peristiwa pembakaran tempat shalat idhul fitri oleh siapapun harus jadi introspeksi pemimpin ansor dan banser agar tidak lupa akan tujuan pendirian ansor dan banser.

Saya sama sekali tidak keberatan Banser menjaga tempat-tempat ibadah non-Muslim saat mereka menjalankan ibadah dan ritual menurut keyakinannya, tentu tanpa melupakan penjagaan terhadap tempat-tempat ibadah umat Islam.

Islam ahlussunah waljamaah telah mengajarkan kepada kita bagaimana seorang Muslim bersikap terhadap sesama manusia (ukhuwah basyariyah), sesama orang Islam (ukhuwah Islamiyah), dan dan sesama warga bangsa (ukhuwah wathoniyah).

Saya berharap Ansor dan Banser harus tetap mendahulukan tugas utama dan semangat dasar pendirian Banser.

Demikian sekadar mengingatkan bagian akhir surat al-'Ashr.

Khatibul Umam Wiranu (Ketua PP GP Ansor 2005-2010)

InnaaIillaahi wa Innaa Ilaihirooji'uun.

Wallahul Mustaa'an.

*Sumber: http://www.nugarislurus.com/2015/07/mantan-ketum-gp-anshor-banser-semangat-jaga-gereja-tapi-lupa-menjaga-masjid.html#axzz3gOFJvEMB




Membedah Berita Tempo: 'Semua Korban adalah Jemaat GIDI'
9:03:26 PMPIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com

Minggu (19/7/2015), berita terpopuler (paling banyak dibaca) di Tempo.co berjudul: Rusuh di Tolikara, 'Semua Korban adalah Jemaat GIDI'. (http://nasional.tempo.co/read/news/2015/07/18/058684854/rusuh-di-tolikara-semua-korban-adalah-jemaat-gidi)

Tempo menyajikan berita tersebut dengan mengambil nara sumber Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Ronny Mandang. Poin utama berita tersebut adalah pernyataan Ronny bahwa:

1. Semua warga Tolikara yang jadi korban dalam kerusuhan di Tolikara, Jumat 17 Juli 2015 adalah warga jemaat Gereja Injili Di Indonesia (GIDI)

2. Mereka tertembak saat mendekati lokasi salat Ied untuk berkoordinasi dengan warga muslim di lapangan Koramil Tolikara

3. Ronny menduga ada aparat yang memprovokasi kejadian tersebut sebab selama warga Tolikara hidup berdampingan dengan rukun, terutama soal agama.

4. Bentrok dan kerusuhan terjadi karena ada tembakan.

Angle Berita

Media-media lain juga menyebutkan bahwa dalam peristiwa tersebut jatuh korban tewas dan luka. Tepatnya 1 orang tewas dan 11 warga terluka. Jika semuanya adalah adalah jemaat GIDI, judul berita tersebut tidak dapat disalahkan. Namun, setiap judul selalu mengandung angle pemberitaan. Membaca judul Rusuh di Tolikara, 'Semua Korban adalah Jemaat GIDI', pembaca terbawa pada framing bahwa jemaat GIDI adalah korban. Posisi sebagai korban, membentuk persepsi bahwa jemaat GIDI-lah yang dizalimi. Padahal berita-berita yang lebih terpercaya yang jumlahnya jauh lebih banyak menunjukkan jemaat GIDI adalah pelaku penyerangan atas jamaah shalat Idul Fitri dan pembakaran masjid serta puluhan rumah dan kios. Sedangkan tertembaknya mereka merupakan akibat dari penyerangan tersebut, saat mereka tidak bisa diperingatkan oleh aparat. Bukan "korban" dalam arti sesungguhnya.

Istilah

Tempo.co menggunakan istilah "Rusuh Tolikara" dalam pemberitaan, alih-alih menggunakan istilah "Pembakaran Masjid" atau "Teror Tolikara"

Pemilihan istilah untuk menyebut suatu peristiwa juga menggambarkan sudut pandang media dalam sebuah peristiwa dan membentuk persepsi publik ketika membaca berita tersebut.

Istilah yang sama juga dipakai oleh Kompas.com. Sedangkan Republika dan media Islam lainnya lebih memilih istilah "Pembakaran Masjid" dan "Masjid Dibakar"

Tertembak saat hendak koordinasi?

Dalam berita paling populer tersebut, Tempo menguti pernyataan Ketua Umum PGLII bahwa "mereka tertembak saat mendekati lokasi salat Ied untuk berkoordinasi dengan warga muslim di lapangan Koramil Tolikara." Benarkah mereka tertembak saat hendak berkoordinasi dengan warga muslim? Berita-berita di media lain (baik media umum maupun media Islam) menyebutkan bahwa mereka tertembak saat aparat memberikan tembakan peringatan karena mereka menyerang jamaah shalat Idul Fitri.

"Aparat keamanan sempat memberikan tembakan peringatan untuk menghalau warga yang menyerang jamaah Salat Id, di Karubaga, Tolikara, Papua pada Jumat lalu. Namun 1 warga sipil meninggal dunia, 2 luka berat dan 8 luka ringan akibat letupan senapan tersebut," tulis Detik.

"Tiga orang pelaku penyerangan warga yang tengah salat Idul Fitri di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua terluka tembak. Petugas terpaksa melumpuhkan mereka karena tak mengindahkan peringatan petugas," tulis CNN Indonesia.

"Sebenarnya, kata Patrige, di lokasi musala sudah ada anggota Polisi dan TNI yang berjaga untuk pengamanan Salat Id. Namun massa tetap menyerang sehingga ada tindakan dari aparat," tulis Merdeka.

Menyalahkan aparat

Pada poin ketiga dan keempat, pernyataan Ketua Umum PGLII berita tersebut justru menyalahkan aparat keamanan. Menuduh aparat keamanan yang memprovokasi dan tembakan dari aparat keamanan-lah yang menyebabkan mereka menyerang dan membakar masjid. Jika publik percaya pada berita ini, maka persepsi publik akan terbawa pada kesimpulan bahwa pelaku teror yang membakar Masjid tidak bersalah. Publik justru menyalahkan aparat keamanan. Jika demikian, sungguh ini adalah propaganda yang membahayakan. [Ibnu K/Tarbiyah.net]

Sumber: http://www.tarbiyah.net/2015/07/membedah-berita-terpopuler-di-tempo.html

*NB: 1 Masjid terbakar, 38 rumah dan 63 kios milik umat Islam ludes terbakar. 153 muslim Tolikara masih mengungsi.




RSSFWD - From RSS to Inbox
3600 O'Donnell Street, Suite 200, Baltimore, MD 21224. (410) 230-0061
WhatCounts
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

PETA MEDAN JOHOR

PETA MEDAN JOHOR

REAL COUNT PILGUBSU 2018

REAL COUNT PILGUBSU 2018
DPC PKS Medan Johor by Zul Afkar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. DPC PKS Medan Johor - All Rights Reserved
Original Design by Creating Website Modified by Zoel Afkar MK