| PIYUNGAN ONLINE Portal Berita, Politik, Dakwah, Dunia Islam, Kemasyarakatan, Keumatan | Saat Papua Masih Berduka, Presiden Jokowi Cekikikan Nonton Bioskop Film Komedi. Apa Pantas? | | 8:43:42 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Di hari lebaran ke 3 atau H+3 ini Jokowi bersama keluarga besarnya menonton film Comic 8: Casino King, Minggu malam (19/07) di Mall Paragon Solo.
Di saat tragedi Tolikara Papua masih belum selesai ditangani, Presiden Jokowi malah asik ke bioskop nonton film komedi 'Comic 8'.
Presiden Jokowi memborong 30 tiket untuk nonton bareng bersama keluarga besarnya di Cinema XXI Solo Paragon Mall.
Publik social media menilai Presiden Jokowi tak punya empati, disaat tragedi Tolikara Papua belum terselesaikan, dimana sebanyak 153 orang masih mengungsi setelah 38 rumah, 63 kios dan masjid dibakar massa GIDI pada Jumat (17/7) kemarin.
"Percuma ada laporpresiden.org kalo pas lagi ada konflik presidennya malah asik nonton film. Keren kan." cuit netizen @gatse8.
"Hanya psikopat yg nonton film komedi sementara anaknya kesetrum listrik...!!" singgung @ypaonganan.
"Katanya presiden wong cilik. ko wong cilik lgi menderita presidennya gembira??.. #Gila" komen @nadanet02.
"Ada yg tertawa. Ada yg menangis #PemimpinAbal2" cuit netizen @Laskar_RI.
"Ratusan pengungsi muslim papua meringkuk dlm dingin dan ketakutan pasca pembakaran, semntr presiden cekikikan menonton bioskop. Apa pantas?" ungkap netizen yang lain.
Bahkan tokoh motivator nasional Jamil Azzaini ikut prihatin dengan sikap Presiden Jokowi yang tak peka dengan penderitaan rakyat.
Melalui akun twitternya @JamilAzzaini, Pendiri Akademi Trainer ini menulis:
01. Pak @jokowi maaf jika saya harus menyampaikan hal ini lewat social media karena saya tak punya akses langsung ke bpk
02. Sedih saya membaca ini. Dikala Papua berduka, di NTT ada kelaparan bpk justeru menonton
03. Saya tahu, menonton adalah hak setiap warga negara. Tetapi ada "rasa" yg perlu bapak @jokowi jaga sebagai presiden
04. Tentu seyognyanya bapak @jokowi punya rasa empati yg tinggi karena sering blusukan. Tapi maaf pak...
05. Menonton film lucu disaat ada kejadian yg melukai rakyat yg bapak @jokowi pimpin tentu bukan bentuk empati pak
06. Bapak @jokowi orang Solo tentu hati dan rasa empatinya tentu seharusnya lebih peka terhadap "perasaan" orang lain
07. Saya tidak hendak mengajari bapak @jokowi tentang "perasaan" rakyat. Bpk pasti lebih paham dibandingkan saya
08. Semoga kesediaan bpk @jokowi nonton film lucu ditengah2 perasaan sebagian rakyat yg terluka bukan kesengajaan
09. Maaf pak @jokowi saya tdk sanggup meneruskan kultwet ini. Semoga "perasaan" bpk untuk selanjutnya lebih peka
10. Maaf bila ada yg kurang berkenan pak @jokowi doa saya untuk kebaikan bapak
|
| Reaksi 'Marah' Umat Islam atas Tragedi Masjid Tolikara | Oleh Kyai Achyat Ahmad | | 8:35:23 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
|
Reaksi Umat Islam atas Tragedi Masjid Tolikara Oleh Kyai Achyat Ahmad (Pengasuh dan pengajar Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jatim)
Telah sampai kepada Rasulullah SAW bahwa Sa'ad bin Ubadah berkata: "Jika kudapati istriku bersama seorang lelaki, maka akan kupenggal lehernya!"
Maka Rasulullah SAW pun bersabda: "Apakah kalian heran dengan kecemburuan (ghirah) Sa'ad? Sungguh aku lebih pencemburu daripada Sa'ad, dan Allah lebih pencemburu daripada aku, dan karenanya Allah mengharamkan hal-hal yang keji..."
Dalam konteks itulah saya melihat reaksi sebagian besar umat Islam yang marah terhadap pembakaran Masjid di Tolikara pada saat salat Idul Fitri dilaksanakan beberapa waktu yang lalu itu.
Sikap marah yang ditunjukkan oleh umat Islam dengan levelnya yang beragam, yang barangkali level terrendahnya adalah dengan marah-marah di sosial media, adalah hal wajar dan bahkan seharusnya.
Karena itu kita patut bertanya kepada sebagian kecil umat Islam yang justru bersikap 'kritis' (atau lebih pasnya nyinyir) menanggapi pembakaran masjid itu. Kita patut bertanya dimanakah ghirah Islamiyah mereka? Bukankah ghirah itu bagian dari iman, dan orang yang tak punya ghirah berarti imannya tidak sempurna, sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis?
Tentu, ghirah Islam tak harus dihadapkan pada pandangan objektif dan sikap adil seseorang. Karena setiap kita pasti mendorong aparat penegak hukum untuk mengadili setiap orang yang terlibat dalam tindakan anarkhis itu, termasuk mereka yang menyulut konflik, bahkan jika seandainya itu adalah seorang Muslim sekalipun.
Namun masalahnya barisan orang-orang 'kritis' ini tampaknya memang tak pernah berada di pihak umat Islam. Dalam konflik Israel vs Palestina, misalnya, tentu sudah jelas siapa penjajah dan siapa terjajah; siapa penindas siapa tertindas. Namun faktanya masih sempat-sempatnya mereka bersikap 'kritis' (nyinyir -red) dan mengecam tindakan Hamas.
Dalam berbagai ketegangan sekte-sekte dan keagamaan yang terjadi di Indonesia tentu bukanlah pengecualian bagi mereka. Umat Islam vs Kristen, mereka di pihak Kristen. Islam vs Ahmadiah, mereka di pihak Ahmadiah. Umat Islam vs pendukung LGBT, mereka di pihak LGBT. Umat Islam vs pornografi, mereka di pihak pornografi, dan begitu seterusnya; mereka selalu berada di pihak yang berseberangan dengan mayoritas umat Islam.
Saya jadi bertanya, adakah memang begitu sikap dan pemikiran orang-orang yang mengaku "tercerahkan" itu?
Tapi ngomong-ngomong soal "tercerahkan", saya jadi teringat salah satu twitt Pak Zuhairi yang menulis begini: "Sewaktu kuliah di Mesir, saya bertemu dengan seorang pastur. Dia bertanya pada saya: 'Zuhairi, apakah Tuhan itu beragama?' Saya diam. Dan sejak saat itu saya tercerahkan."
Twitt Pak Zuhairi itu lalu ditanggapi oleh seseorang via akun twitternya begini: "Zuhairi, apakah iblis itu beragama? Jika Anda diam berarti Anda sudah tercerahkan."
Sumber: fb
|
| Begini 6 Cara Media Mengaburkan Kasus Pembakaran Masjid di Papua | | 8:00:15 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Sebuah masjid di Tolikara, Papua dibakar saat shalat Idul Fitri, Jum'at (17/7/2015) lalu. Segera, peristiwa itu menjadi berita di hampir seluruh media. Namun, ternyata banyak pemberitaan yang mengaburkan kebenaran.
Berikut ini 6 cara media mengaburkan kasus pembakaran Masjid di Tolikara Papua:
'Yang dibakar adalah mushala'
Banyak media memberitakan bahwa yang dibakar adalah mushala. Baik di judul maupun badan berita, yang disebut adalah mushala. Istilah mushala tentu membuat publik memiliki persepsi berbeda. Mushala itu kecil, tidak dipakai shalat Jum'at. Faktanya, yang dibakar adalah Masjid Baitul Muttaqin.
'Yang dibakar adalah kios'
Lebih bias lagi, berita-berita yang menyebutkan bahwa yang dibakar adalah kios bukan masjid atau mushala. Berita-berita tersebut bersumber dari Kepala Staf Presiden Republik Indonesia, Luhur Binsar Panjaitan. CNN Indonesia menurunkan dalam berita berjudul "Luhut: Pembakaran Terjadi di Kios Bukan di Musala"
'Aksi tidak ditujukan kepada umat Islam'
Selain menyebut yang dibakar adalah kios, Luhut juga menyebut bahwa aksi tersebut tidak ditujukan kepada umat Islam. Padahal, kelompok massa yang diketahui berasal dari jemaat GIDI itu sempat menyerang ke arah jamaah shalat Idul Fitri sebelum akhirnya membakar masjid.
Mengubah berita menjadi bias
Metrotvnews diketahui melakukan perubahan berita yang semula berjudul "Saat Imam Takbir Pertama, Sekelompok Orang Datang dan Lempari Musala di Tolikara" menjadi "Amuk Massa Terjadi di Tolikara". Isi berita pun diubah, yang semula menyebut "Sejam kemudian, orang-orang itu melempari Musala Baitul Mutaqin yang berada di sekitar lokasi kejadian. Mereka juga membakar rumah ibadah tersebut" diubah menjadi "Sejam kemudian, orang-orang itu melempar batu dan membakar bangunan di sekitar lokasi kejadian. Enam rumah dan sebelas kios pun menjadi sasaran amukan orang-orang itu." Mengarahkan pada persepsi umat Islam yang salah
Kendati memberitakan rumah ibadah umat Islam dibakar, sejumlah media banyak memberitakan dari sumber yang menyebut penyebab peristiwa tersebut adalah umat Islam yang memakai speaker atau umat Islam telah diingatkan tidak merayakan hari raya. Berita-berita tersebut agaknya membentuk persepsi pembaca bahwa bagaimanapun juga yang salah adalah umat Islam.
Tidak menyebut tindakan teror dan pelakunya teroris
Ketika ada perusakan rumah ibadah non Muslim, dengan serta merta media-media menyebut aksi tersebut sebagai tindakan teror dan pelakunya adalah teroris. Namun ketika yang dibakar adalah masjid, banyak media enggan menyebut tindakan tersebut sebagai teror dan pelakunya adalah teroris. [Ibnu K/Bersamadakwah]
Sumber: http://bersamadakwah.net/begini-6-cara-media-mengaburkan-kasus-pembakaran-masjid-di-papua/
|
|
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !