| PIYUNGAN ONLINE Portal Berita, Politik, Dakwah, Dunia Islam, Kemasyarakatan, Keumatan | Pendukung Jokowi Musdah Mulia Inginkan Pelajaran Agama Dihapus Di Sekolah | | 7:51:39 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Melalui akun facebooknya Musdah Mulia II, timses Jokowi ini menulis:
Copas dari seorang teman: Mari belajar dari Singapura ttg Agama: Sekitar 22 tahun lalu Singapura melarang pengajaran agama di Sekolah. Hasilnya, penduduk negeri itu dikenal paling tertib, disiplin, dan toleran padahal mrk terdiri dari beragam etnik, bahasa dan agama.
PM Singapura, Lee Hsien Loong tetap menegaskan, pemerintahnya tdk akan mengijinkan pengajaran agama masuk sekolah. Sejak PM Lee Kuan Yew ditetapkan bhw agama urusan pribadi, bukan urusan sekolah atau negara. Keputusan itu diambil krn Lee Kuan Yew melihat pengajaran agama justru menimbulkan perpecahan dan konflik, bukan perdamaian.
Sebaliknya, Indonesia menjadikan pengajaran agama wajib di sekolah. Bahkan, ada Kementrian Agama yg memiliki jutaan pegawai di bidang agama, puluhan ribu Sekolah Agama, Ratusan ribu rumah ibadah, trilyunan rupiah utk pembangunan bidang agama. Namun hasilnya? Indonesia masuk negara terkorup di dunia, bahkan korupsi pun marak di Kementerian Agama.
Ringkasnya, semua orang Indonesia beragama kecuali jika berhadapan dg uang, kekuasaan dan proyek!!!!
***
Demikian status fb aktivis JIL yang juga Direktur Megawati Institute ini yang ditulisnya pada 23 Juli lalu.
Jadi menurut Musdah yang juga pendukung LGBT ini, agama hanya melahirkan koruptor.
Apa Musdah tidak berkaca, bahwa koruptor di Indonesia itu paling banyak itu bersarang di partai pimpinan Megawati PDIP?

  Kenapa bukan PDIP saja yang 'dihapus'? Sudah terbukti banyak koruptornya. Kok malah mau menghapus pelajaran agama?
|
| Cegah Aksi Tolikara Terulang, GIDI Harus Dibekukan | | 7:08:03 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Aksi teror di Tolikara mengundang keprihatinan dari banyak pihak. Walaupun polisi sudah tetapkan dua orang tersangka, namun aktor intelektual tragedi Tolikara belum terungkap.
Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jendral Badrodin Haiti mengatakan pihaknya masih belum mengetahui siapa aktor intelektual di balik kerusuhan di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua, yang terjadi pada hari raya Idul Fitri jumat dua pekan lalu itu.
"Indikasinya apa yang terjadi di Tolikara ada aktornya, tapi masih kami selidiki," katanya di Bangkalan, Sabtu, 25 Juli 2015, seperti dilansir Tempo.
Menurut Badrodin, penyelidikan untuk mengungkap musabab sebenarnya di balik rusuh Tolikara terus berjalan.
Peneliti di Indonesia Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B Nahrawardaya mengatakan bahwa peristiwa Tolikara adalah sebuah proses awal dari sebuah kebiadaban besar bernama terorisme. Unsur-unsur dari peristiwa terorisme sebenarnya telah terpenuhi pada kejadian di Tolikara.
Unsur-unsur sebuah kejadian dapat digolongkan sebuah aksi terorisme menurutnya telah terpenuhi dan itu terjadi terang benderang di depan mata kita. Setidaknya ada lima unsur yang dapat dilihat sebagai sebuah aksi terorisme.
Pertama, ada ideologi yang mendorong pelaku untuk melakukan kekerasan berupa perusakan, pembakaran, dan perbuatan menebar kebencian yang mana beberapa perilaku ini dapat disebut sebagai tindakan-tindakan radikalisme. Adanya surat intoleran dari GIDI, cukup sebagai bukti adanya satu ideologi yang mendorong mereka untuk melakukan teror.
Kedua, ada efek berantai akibat perbuatan teror para pelaku. Efek ini berupa ketakutan massal. Efek ketakutan massal tidak hanya dirasakan oleh orang Islam saja, tetapi juga dirasakan oleh Kristen selain yang mengikuti aliran/organisasi para pelaku. Seperti diketahui, bahwa korban dari perbuatan pelaku teror Tolikara, tidak hanya pihak Islam, namun juga pemeluk agama-agama lain, termasuk Kristen sendiri.
Ketiga, pelaku diketahui memiliki jaringan. Dengan adanya banyak cabang organisasi para pelaku, bahkan adanya jaringan di luar negeri, maka dimungkinkan jaringan ini telah dan akan berkontribusi untuk melakukan perilaku teror bahkan bisa lakukan tindakan terorisme pada waktu dan tempat berbeda di waktu mendatang. Jika tidak dihentikan dari awal, maka GIDI berpotensi menjadi organisasi teroris besar seperti Al Qaeda atau Jamaah Islamiyah.
Keempat, pendanaan teror. Tidak mungkin para pelaku teror lapangan bekerja tanpa pendanaan. Banyaknya massa, adanya minyak, adanya pemantik api, adanya peralaan sound system, adanya gerakan massa merusak bahkan keberanian melakukan teror di depan markas militer, sangat mungkin didorong oleh adanya unsur pendanaan untuk melakukan teror.
Kelima, adanya penghinaan kepada Negara. Perilaku kekerasan berupa pembakaran tempat ibadah yang mana bangunan tersebut terletak di dekat Koramil, membuktikan bahwa para pelaku dan sutradaranya terbukti secara brutal melakukan penghinaan dan pelecehan pada Simbol Negara tanpa rasa takut. Sudah intoleran, plus pamer kekerasan di depan hidung tentara.
Untuk itu, sangat urgent menurutnya dilakukan negara agar segera membekukan Organisasi Gereja Injili di Indonesia (GIDI), membekukan rekeningnya, kemudian melakukan penangkapan terhadap orang-orang yang terlibat langsung atau tidak langsung terhadap pembakaran Masjid dan Ruko di Tolikara.
Melalui pres rilis kepada media, juru bicara Komite Ummat untuk Tolikara ini mendesak kepolisian agar orang-orang yang menandatangani Surat Edaran GIDI yang berisi larangan bagi umat Islam berhari raya dan larangan berjilbab yakni Nayus Wenda dan Marthen Jingga, harus segera ditetapkan sebagai tersangka dan penting kiranya segera ditangkap.
|
|
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !