Headlines News :
Home » » PIYUNGAN ONLINE

PIYUNGAN ONLINE

Written By Unknown on Saturday, July 25, 2015 | 5:57 PM

Your RSS feed from RSSFWD.com. Update your RSS subscription
RSSFWD
PIYUNGAN ONLINE

PIYUNGAN ONLINE

Portal Berita, Politik, Dakwah, Dunia Islam, Kemasyarakatan, Keumatan

Aneh, Komnas HAM Bela Simbol Israel di Tolikara
8:45:00 PMPIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com

Dari hasil investigasi tim Komite Umat Untuk Tolikara (Komat) yang dikirim ke Tolikara, ditemukan banyak simbol berupa bendera Israel. Anggota Dewan Syuro Komat Hidayat Nur Wahid mencurigai, Gereja Injili di Indonesia (GIDI) berafiliasi dengan organisasi yang ada di Israel.

"Gambar bendera itu ada di banyak tempat, bahkan di tempat umum," ucap Wakil Ketua MPR RI ini.

Untuk itu Komat meminta semua pihak, termasuk TNI dan Polri menyelidiki dan menindak tegas pihak asing jika terbukti terlibat dalam insiden yang menyebabkan sejumlah kios dan sebuah Masjid terbakar.

Namun, Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai mengatakan 'Simbol Bintang Daud' itu bukan merepresantisakan Israel.

Menurut Pigai, simbol bintang Daud tersebut, bukan untuk merepresentasikan negara Israel, melainkan sebagai penanda Raja Daud. Karena Yesus, selalu diagungkan berasal dari keturunan dari Raja Daud. Ia mengatakan beberapa penganut Kristen di Papua memang mendambakan lambang bintang Daud.

"Karena itu untuk mengenang Yesus Kristus," katanya, dikutip dari republika.co.id, Sabtu (25/7/15).

Ia melanjutkan, sepegetahuannya tidak ada gereja yang menganjurkan jemaatnya untuk menggunakan lambang tersebut. Penggunaan dan pengecatan simbol bintang Daud, murni inisiatif dan keinginan warga secara pribadi.

"Itu (penggunaan lambang bintang Daud) hanya keinginan pribadi masing-masing," ujarnya.

Dan terkait adanya seminar GIDI yang mengundang pendeta asal Israel, Ia menilai hubungan itu hanya kerjasama dalam bidang agama. Tidak ada sangkutannya dengan Israel sebagai negara.

Kita "kritisi" pernyataan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai:

(1) Benarkah simbol Bintang Daud itu tak ada kaitannya dengan 'Negara Israel' seperti yang dituturkan Komisioner Komnas HAM Natalius Pigai?

Coba lihat foto dibawah ini yang berhasil difoto oleh wartawan Hidayatullah.. foto 'Simbol Bintang Daud' tapi dengan tulisan yang jelas-jelas mendukung Israel "Love you Israel".


(2) Benarkah pengecatan 'sombol negara Israel' ini sukarela warga?

Seperti diberitakan Republika Online yang melakukan investigasi langsung ke Tolikara, ternyata GIDI mengenakan sanksi denda Rp 500 ribu bagi warga Tolikara jika tidak mengecat kediamannya dengan simbol bintang Daud.

"Kami didenda Rp 500 ribu jika tidak cat kios, itu kami punya kios," kata seorang pedagang asal Bone, Agil Paweloi (34), saat ditemui Republika.co.id di tempat pengungsian di Tolikara, Papua, Jumat (24/7) dini hari.

Agil menuturkan pengecatan ruko, rumah, dan trotoar jalan diwajibkan dengan warna biru dan putih. Dalam kegiatan itu, lanjutnya, pihak GIDI menjelaskan kepada warga bahwa instruksi pengecatan tersebut dalam rangka menyambut kedatangan pendeta dari Israel.

NAH! Jadi, kenapa Komnas HAM malah ngeles dan seperti "membela" simbol-simbol Israel?




Ini Bukti Teror Tolikara Melibatkan Pihak Asing
8:30:01 PMPIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com

Tragedi Tolikara Papua di Hari Idul Fitri 1436 H pada Jumat (17/7) lalu diduga melibatkan campur tangan pihak asing.

"Dengan adanya banyak cabang organisasi para pelaku, bahkan adanya jaringan di luar negeri maka dimungkinkan jaringan ini telah dan akan berkontribusi untuk melakukan perilaku teror," kata peneliti terorisme Indonesia Crime Analyst Forum (ICAF), Mustofa B. Nahrawardaya, Sabtu (25/7), dilansir ROL.

Ia menambahkan, bahkan bisa terjadi tindakan terorisme pada waktu dan tempat berbeda di waktu mendatang. Untuk itu, ia berpendapat jika tidak dihentikan dari awal, maka Gereja Injili di Indonesia (GIDI) berpotensi menjadi organisasi teroris besar seperti Al Qaeda atau Jamaah Islamiyah.

"Tidak mungkin para pelaku teror lapangan bekerja tanpa pendanaan. Banyaknya massa, adanya minyak, adanya pemantik api, adanya peralatan sound system, adanya gerakan massa merusak bahkan keberanian melakukan teror di depan markas militer, sangat mungkin didorong oleh adanya unsur pendanaan untuk melakukan teror," jelas Mustofa.

Terkit hal tersebut, menurutnya, perilaku kekerasan berupa pembakaran yang terjadi di dekat Koramil membuktikan para pelaku dan sutradaranya terbukti secara brutal melakukan penghinaan terhadap negara. Terlebih, kata dia, penghinaan tersebut juga melecehkan simbol negara tanpa rasa takut.

Diketahui, tragedi penyerangan umat muslim di Tolikara saat sedang melaksanakan sholat Idul Fitri berujung dengan adanya pembakaran kios dan masjid Baitul Muttaqin di dekat Koramil.

Pihak kepolisian sudah menangani dan menengkap dua orang yang diduga berperan dalam insiden tersebut, namun aktor intelketualnya masih belum ditangkap.

Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jendral Badrodin Haiti mengatakan pihaknya masih belum mengetahui siapa aktor intelektual di balik kerusuhan di Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua, yang terjadi pada hari raya Idul Fitri jumat dua pekan lalu itu.

"Indikasinya apa yang terjadi di Tolikara ada aktornya, tapi masih kami selidiki," katanya di Bangkalan, Sabtu, 25 Juli 2015.




"Yang Saya Lawan BUKAN Jokowi"
8:00:03 PMPIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com

by Jonru

Banyak orang heran dengan sikap saya beberapa hari ini yang terlibat konflik dengan Faizal Assegaf (FA).

"Kalian sama-sama oposisi, sama-sama pendukung Prabowo, sama-sama pengkritik Jokowi. Kenapa harus pecah kongsi hanya gara-gara isu Syiah?"

Begini Teman, saya jelaskan ya:

Julukan terhadap saya sebagai "pengkritik Jokowi", itu datang dari Anda semua. Andalah -baik haters maupun lovers- yang melekatkan branding tersebut kepada saya.

Adapun bagi saya, setiap muslim tanpa kecuali (termasuk Anda, jika Anda muslim) mengemban tugas yang sangat mulia, yakni DAKWAH. Dan sungguh terlalu sempit jika tema dakwah hanya dibatasi seputar Jokowi.

Teman-teman bisa melihat status-status saya selama ini. Saya juga membahas soal pelurusan aqidah, soal poligami, soal Islam Nusantara, soal pengemis yang menyewa bayi untuk meraup keuntungan, soal pembagian kondom gratis, soal LGBT, dan masih banyak lagi.

Intinya, pembahasan saya tidak terbatas seputar Jokowi saja.

Spesialisasi saya adalah DAKWAH, karena saya percaya itulah tugas seorang muslim di dunia ini.

Jika belakangan ini saya rajin mengkritik Jokowi, itu bukan berarti spesialisasi saya adalah Jokowi. Itu semata-mata karena tema Jokowi sedang ngetren saja.

Jadi tak ada yang aneh ketika saya konflik dengan Faizal Assegaf. Banyak orang yang menilai bahwa si FA ini pendukung Prabowo juga, sama seperti saya. Jika sama-sama pendukung tokoh yang sama, kenapa harus bertengkar?

Hm, begini Teman:

Bagi saya, AGAMA haruslah diletakkan di atas urusan duniawi. Prabowo itu urusan duniawi. Pilpres itu urusan duniawi. Sedangkan syiah adalah urusan aqidah, urusan dunia dan akhirat.

Saya tidak menuduh Faizal Assegaf itu syiah (karena perlu bukti yang valid untuk "menuduh" seseorang). Namun yang jelas, status-status Facebooknya beberapa hari ini sangat kental beraroma dukungan terhadap Syiah. Ini fakta yang tak terbantahkan. Jika tidak percaya, silahkan cek sendiri di akun Facebooknya.

Jadi jika banyak teman yang bertanya, "Kenapa gara-gara syiah, ada pendukung prabowo yang pecah?" Saya justru hendak balik bertanya, "Kenapa gara-gara Prabowo, kita harus berkompromi terhadap pendukung syiah? Kenapa Prabowo kamu letakkan di atas urusan aqidah? Emangnya Prabowo bisa membawa kamu ke surga?"

"Musuh bersama kita kan Jokowi. Coba hilangkan dulu ego masing-masing. Lupakan perbedaan sunni-syiah. Sekarang kita bersatu dulu menentang Jokowi," ujar beberapa teman.

Hm, menurut saya, itu justru kebalik. Sebab musuh bersama kita bukan Jokowi. Musuh bersama kita adalah semua golongan yang memusuhi Islam, termasuk syiah.

Dan soal Faizal Assegaf, berikut saya beberkan beberapa fakta mengenai perseteruan kami:

1. Awalnya dia menuduh saya Syiah dengan alasan yang tidak jelas.

2. Saat saya konfirmasikan hal itu via inbox padanya, eh... dia malah balik menyerang saya, menciptakan situasi seolah-olah saya memang syiah dan dijebak untuk mengaku (untungnya saya tidak bodoh dan tidak mau terjebak oleh permainan si FA ini).

3. Si FA ini juga menuduh saya mencuri status Facebooknya. Sebuah istilah dan tuduhan yang sangat aneh bin ngawur. Yang saya lakukan sebenarnya hanya meng-capture statusnya, menutupi namanya karena saya ingin melindungi privasinya. Padahal status tersebut pun sudah saya hapus, dan saya sudah minta maaf karena membuat dia merasa tak berkenan.

Tapi si FA ini terus menyerang saya dengan argumen-argumen yang ngawur. Dia bahkan terus menuduh saya mengkafirkan dirinya (padahal dialah yang sejak awal menuduh saya syiah).

NB: Saya punya bukti screenshot yang menjelaskan poin 1 sd 3 di atas. Jika diperlukan, akan saya beberkan semuanya ke depan publik.



RSSFWD - From RSS to Inbox
3600 O'Donnell Street, Suite 200, Baltimore, MD 21224. (410) 230-0061
WhatCounts
Share this article :

0 comments:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

PETA MEDAN JOHOR

PETA MEDAN JOHOR

REAL COUNT PILGUBSU 2018

REAL COUNT PILGUBSU 2018
DPC PKS Medan Johor by Zul Afkar
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. DPC PKS Medan Johor - All Rights Reserved
Original Design by Creating Website Modified by Zoel Afkar MK