| PIYUNGAN ONLINE Portal Berita, Politik, Dakwah, Dunia Islam, Kemasyarakatan, Keumatan | Ucapkan Selamat Idul Fitri, Ronaldo Didoakan Mendapat Hidayah Islam | | 12:39:49 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
|
"Eid Mubarak To All Our Fans"
Demikian ucapan Idul Fitri 1436 H yang diunggah fanpage RonaldoCR7 pada 18 Juli kemarin dengan menampilkan foto Ronaldo berpakaian "islami".
Banyak netizen yang mengomentari status "Idul Fitri" fanpage Ronaldo yang punya fans (likers) 2,5 juta ini.
Bahkan beberapa netizen mendoakan agar hati Ronaldo terbuka untuk menerima hidayah Islam.
"Happy eid mubarak RONALDO..i hope u heart will be open to see the beautiful about ISLAM..," tulis Muhammad Fauzan Md Yaman.
"Nice look and eid mubarak ronaldo," ujar Anil C.v
"eid mubarak to. we love you so mutch" tulis Houssem Oran.
"Woooow fantastic Ronaldo goood happy eid mubarak Idul Fittri," ungkap Bram Ibrahim.
"Great welcome eid Mubarak to you cristiano CR7. You are the best, Most Complete Player in the World. I'am Your Fans from Indonesia," tulis Bojan Ramadanie.
|
| Laporan Kondisi Tolikara Terkini, Dibutuhkan Rp 15 Miliar Membangun Masjid | | 12:19:39 AM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
|  | | Salah satu sudut Kondisi Tolikara dan reruntuhan puing-puing rumah-kios korban pembakaran (foto: Hidayatullah.com) |
Perwakilan Tim Forum Organisasi Zakat (FOZ) saat ini telah berada di Tolikara, Karubaga, Papua, sejak Selasa (21/7) pagi. Dari hasil penelusuran FOZ, yang ditulis dalam Fanpage Facebook Rumah Zakat (RZ), Selasa (17/7) bahwa didapatkan gambaran umum kondisi Tolikara.
Dalam status tersebut, tertulis bahwa shalat Idul Fitri di Tolikara sudah dilakukan sejak tahun 1945 saat Indonesia merdeka secara terus-menerus hingga sekarang. Saat ini jumlah penduduk Muslim di Tolikara sebanyak 1000 jiwa lebih.
Sementara itu, shalat Id di halaman Koramil sudah dilakukan beberapa tahun ini dan tidak pernah ada masalah dengan penduduk pemeluk agama lain. Shalat Id dilakukan dengan menggunakan pengeras suara dalam kapasitas kecil yang hanya di dapat didengar oleh jamaah Sholat Id saja.
Dalam status itu juga tertulis jumlah jamaah Shalat Id yang hadir pada tahun ini sekitar 400-an jiwa, dan pada saat bersamaan dengan Shalat Id, sedang dilakukan pertemuan Kristen Internasional yang dihadiri kurang lebih sejumlah 7000 peserta dari dalam maupun luar Tolikara, termasuk luar negeri.
Babinsa menginformasikan, terdapat 3 kelompok penyerang yang berasal dari wilayah atas, tengah, dan bawah, yang berjumlah sekitar 500 orang.
Akibat penyerangan tersebut, kios yang terbakar berjumlah 64 kios. Diantara kios yang terbakar ada yang digunakan sebagai tempat tinggal, dan sebagai Ruko. Dari kios yang terbakar, teridentifikasi bahwa sebanyak 15 kios milik non Muslim, sisanya sebanyak 49 milik umat Muslim.
Masyarakat meninggalkan ruko saat terbakar. Semeentara Masjid Baitul Muttaqin terbakar sebagai imbas Ruko yang terbakar. Indikasi kebakaran adalah disengaja. Karena sebelumnya terdapat oknum membawa solar dan alat pemantik api.
Akibat penyerangan, 243 orang terpaksa mengungsi. 100 diantaranya adalah Balita. Lokasi pengungsian berada di Kompleks Koramil, dan belakang Koramil. Kondisi pengungsi ada dibeberapa tenda dan rumah dinas koramil.
Kondisi Pengungsi
Saat ini pasokan bahan makanan kurang untuk konsumsi dalam waktu dekat. Bahkan 3 hari ke depan dinilai sangat kurang. Kebutuhan kesehatan pengungsi sudah di akomodir oleh Puskesmas setempat. Terdapat 2 perawat dan 1 orang dokter. Namun dinilai kurang atas pasokan kelengkapan obat-obatan dan tenaga medis.
Pasca penyerangan, beberapa pengungsi mengalami shock sehingga dibutuhkan trauma healing
Rencana Rehabilitasi Tolikara
Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Bupati dan Danramil, Selasa (21/7), telah melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid di lokasi berbeda dari tragedi pembakaran, yakni dibelakang Kompleks Koramil.
Peletakan Batu Pertama tersebut dilakukan di lahan kosong dengan estimasi ukuran 40 x 15 Meter. Kebutuhan pembangunan masjid diperkirakan Rp15 Miliar dengan asumsi harga bahan bangunan yang cukup tinggi di Papua (harga semen di Papua Rp 2 juta/sak). Diperlukan juga rehabilitasi Ruko untuk normalisasi kehidupan dan usaha.
Sementara itu, Komite Umat untuk Tolikara (Komat Tolikara) juga turut mengirim Tim Pencari Fakta (TPF) yang dipimpin oleh dai asal Papua, Fadlan Garamatan, Selasa (21/7). Bersama 7 orang lainnya, TPF itu akan menyusun informasi sebenarnya yang terjadi di Tolikara, Papua. (abr/dakwatuna)
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2015/07/22/71928/kondisi-tolikara-terkini-berdasarkan-hasil-penelusuran-foz/#ixzz3gacp6QDV
|
| Saksi Mata Menuturkan "Keajaiban" di Balik Peristiwa Penyerangan Jamaah Shalat Idul Fitri Tolikara | | Tuesday, July 21, 2015 11:59 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Peristiwa teror kelompok Kristen dengan melakukan pelemparan batu hingga pembakaran masjid Baitul Muttaqin di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua pada Jumat (17/7) pagi berlangsung begitu cepat.
Kejadian tersebut tentu membuat umat Islam geram. Pasalnya, tuduhan intoleran yang selama ini disematkan pada umat Islam, justru fakta di lapangan yang terjadi sebaliknya. Mereka dizalimi, dilarang, bahkan diserang saat melaksanakan ibadah shalat Idul Fitri.
Namun demikian, kaum Muslimin di berbagai belahan bumi nusantara kini bisa mengambil hikmahnya. Diantaranya, peristiwa tersebut membuka mata, bahwa ada saudara Muslim kita yang tinggal terpencil di tengah pegunungan Papua. Aksi penyerangan saat hari raya Idul Fitri mengingatkan pada kerusuhan Ambon-Poso yang terjadi pada tahun 2000an silam. Sehingga menarik simpati dan jalinan ukhuwah umat Islam lainnya di nusantara.
Sementara itu, ada kejadian yang luput dalam pemberitaan media massa terkait peristiwa penyerangan jamaah shalat Idul Fitri di Tolikara. Salah seorang saksi mata mengisahkan bahwa ada keajaiban yang dialaminya.
"Kejadiannya itu kalau tidak salah ketika kami melakukan takbir ke tujuh saat shalat Idul Fitri, sekitar pukul 7, pada hari Jum'at tanggal 17 di bulan 7," kata Nana, salah seorang pengungsi yang kiosnya turut ludes terbakar, pada Selasa (21/7/2015).
Ia mengungkapkan, saat itu dirinya sempat terinjak-injak orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri ketika kelompok Kristen mulai menghujani jamaah shalat Idul Fitri dengan batu.
"Lalu saya dibangunkan seseorang, saya lihat melayang batu-batu seperti hujan batu, tapi tak ada satupun jamaah shalat yang terkena lemparan batu. Mereka juga melempari dengan panah, tapi semuanya meleset. Padahal waktu itu kita tidak ada pasang tenda," ujar Muslimah pendatang asal Sulawesi itu.
Selain itu, Nana juga membantah bahwa yang dibakar itu hanyalah Mushalla. Namun, yang benar adalah Masjid. Hal itu bisa dilihat dari plang yang tersisa dan tak terbakar meski bangunannya ludes dilalap api.
"Karena bangunan kios itu dari kayu, cepat menjalar. Masjid pun ikut terbakar rata dengan tanah. Tapi anehnya plangnya tersisa, tidak hangus terbakar," tuturnya.
[Papan nama inilah yang menjadi bukti dan saksi kebrutalan massa GIDI yang membakar masjid, rumah dan kios]
Sumber: Panjimas
|
|
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !