| PIYUNGAN ONLINE Portal Berita, Politik, Dakwah, Dunia Islam, Kemasyarakatan, Keumatan | "JIL, Berhentilah Mengajari Kami Toleransi" | | 9:39:12 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Ini yang saya heran dengan orang-orang JIL, entah sudah dicuci seperti apa otak mereka. Saat gereja yang diganggu, mereka berteriak, orang Islam teroris! Saat masjid dibakar mereka juga tetap berteriak, Islam garis keras memperkeruh suasana.
Dalam otak mereka, selalu melihat Islam yang mayoritas di negeri ini sebagai penjahat. Tak peduli sebagai pelaku atau korban. Toleransi yang mereka dengungkan hanya ditujukan untuk mengamankan kepentingan minoritas. Sedang kepentingan mayoritas Islam tak pernah ada dalam kamus keberpihakan mereka.
Sebenarnya, apa yang mereka sebut sebagai toleransi, menjaga keutuhan NKRI, humanisme, pancasila dan Islam rahmat lil 'alamin hanyalah propaganda culas untuk mengkerdilan ummat Islam dan menempatkan mereka seakan lebih tinggi dari Islam itu sendiri.
Karena pada kenyataannya, tanpa teriakan mereka pun ummat Islam di negeri ini sudah sangat melindungi saudara sebangsanya, ummat kristiani, hindu, buda dan konghucu. Di Madura, kristen tak sampai setengah persen, gereja berdiri tegak. Kami pun tak pernah mengganggu mereka beribadah. Begitu juga di banyak tempat lainnya di Indonesia.
Maka, berhentilah mengajari kami tentang toleransi, sebelum kalian memahami sepenuhnya dan mempraktekkan dengan sesungguhnya apa itu toleransi. Pun, jauh sebelum kalian teriak-teriak, toleransi sudah menjadi bagian ajaran kami yang telah kami lakukan berabad lamanya.
(Abrar Rifai)
|
| Kapolda Papua: GIDI Mengaku Tak Berniat Bakar Mushala | | 9:27:14 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
|  | | Kapolda Papua, Irjen Pol Yotje Mende memperlihatkan sketsa lokasi kerusuhan di Karubaga, Kabupaten Tolikara, kepada para wartawan di ruang kerjanya di Mapolda Papua, Sabtu (18/7/2015) |
Kepala Kepolisian Daerah Papua, Irjen Pol Yotje Mende, menuding surat edaran yang dikeluarkan Badan Pekerja Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Wilayah Toli, 11 Juli lalu menjadi pemicu aksi spontan yang dilakukan ratusan pemuda GIDI saat membubarkan umat muslim yang sedang melakukan shalat ied. Mereka lalu membakar puluhan kios serta sebuah mushala.
Surat edaran kontroversial yang ditandatangani Pendeta Marthen Jingga dan Pendeta Nayus Wenda tertuang larangan merayakan Idul Fitri di Karubaga karena bertepatan dengan pelaksanaan Seminar dan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Internasional Pemuda GIDI.
Dalam rapat Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Kabupaten Tolikara, di Karubaga, Sabtu (18/7/2015) siang, kata Yotje, terungkap bahwa Bupati Tolikara, Usman Wanimbo dan Presiden GIDI Pendeta Dorman Wandikbo tidak menyetujui beredarnya surat edaran kontroversial itu. Surat itu adalah inisatif dari Badan Pekerja GIDI Wilayah Toli.
"Karena terlanjur beredar di kalangan peserta KKR, surat itu lalu disalahtafsirkan yang berujung aksi massa pembubaran ratusan umat muslim yang sedang melakukan shalat ied di lapangan Koramil," ungkap Yotje di Mapolda Papua usai berkunjung ke Karubaga, didampingi Panglima Kodam XVII Cenderawasih, Mayjen Fransen Siahaan.
Menurut Yotje, dalam pertemuan itu Pendeta Dorman menyampaikan bahwa mereka tidak pernah berniat membakar mushala. Ratusan orang menjadi beringas, karena salah seorang dari mereka ditembak aparat, setelah melempari umat muslim yang sedang shalat.
"Ratusan umat muslim yang ketakutan lalu mencari perlindungan di Markas Koramil. Massa pemuda yang jumlahnya 500-an orang, lalu berhadapan dengan aparat. Karena salah seorang pemuda tertembak aparat, mereka lalu melampiaskan kemarahan dengan membakar rumah kios yang tak jauh dari lapangan. Api dengan cepat menyebar membakar puluhan kios yang terbuat dari kayu. Mushala yang berada dalam deretan kios ikut terbakar," urai Yotje.
Dalam pertemuan yang dihadiri sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh agama Kabupaten Tolikara, menurut Yotje, semua pihak sepakat untuk berdamai. Untuk kerusakan yang timbul akibat kerusuhan tersebut, Bupati Tolikara, Usman Wanimbo berjanji untuk membangun kembali mushala dan rumah kios yang hangus terbakar dalam kejadian tersebut.
Akibat kerusuhan yang terjadi di Karubaga, Jumat kemarin, 54 rumah kios, sejumlah mobil dan sebuah mushala terbakar. Saat membubarkan amuk massa, 11 orang ditembak aparat Kepolisian dibantu TNI.
"38 KK yang kehilangan rumah dan harta benda saat ini mendiami tenda penampungan yang dibangun di halaman Koramil dan sebagian di halaman Polres. Sementara 11 orang yang mengalami luka tembak, tujuh diantaranya sudah dievakuasi ke RS DOK II Jayapura dan empat lainnya ke RSUD Wamena. Informasi terakhir satu orang meninggal dunia setelah sempat dirawat intensif di RS DOK II Jayapura," kata Yotje.
Sumber: http://regional.kompas.com/read/2015/07/18/22090961/Kapolda.Papua.GIDI.Mengaku.Tak.Berniat.Bakar.Mushala
***
NB: Yang dibakar masjid Baitul Muttaqin, masjid satu-satunya di Karubaga, ibukota kabupaten Tolikara. Masjid Baitul Muttaqin biasa dipakai untuk sholat Jumat.
"Insyaallah Mesjid Darul Muttaqin yang kalian bakar akan kami bangun kembali. Pertolongan Allah itu dekat T_T . Damailah Negeriku," tulis lembaga kemanusiaan BSMI Jayawijaya melalui akun twitternya.
Salah seorang relawan BSMI yang bernama Haryoni ikut sholat Ied saat tragedi pembubaran sholat Ied dan pembakaran masjid. Haryoni dan beberapa muslim Tolikara sekarang diungsikan ke Wamena.
Baca juga: Sebelum Masjid Dibakar, Pendeta Marthen Orasi Gunakan Megaphone Minta Umat Islam Tidak Salat Ied
|
| Sebelum Masjid Dibakar, Pendeta Marthen Orasi Gunakan Megaphone Minta Umat Islam Tidak Salat Ied | | 9:05:54 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Sejumlah pihak menyayangkan insiden pembakaran musala Baitul Mutaqin di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua. Pejabat negara dan tokoh nasional ramai-ramai mengimbau agar rakyat Indonesia, khususnya warga Papua, menahan diri dan tidak terpancing berbuat anarkis dalam menanggapi insiden tersebut.
Sumber kepolisian menyebutkan, insiden itu terjadi sekitar pukul 07.00 WIT di mana saat itu tengah berlangsung salat Idul Fitri 1436 H di lapangan Makoramil 1702-11/Karubaga distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara. Salat Id dipimpin Ustaz Junaedi. Di saat bersamaan Jemaat Gidi sedang melaksanakan seminar internasional dipimpin Pdt. Marthen Jingga dan Harianto Wanimbo (Korlap).
Dari sumber kepolisian, Merdeka.com merangkum detik-detik insiden di bumi cenderawasih. Berikut paparannya:
1. Pukul 07.00 WIT saat Jamaah muslim akan memulai Salat Id di lapangan Makoramil 1702-11/Karubaga, Pdt. Marthen Jingga dan sdr. Harianto Wanimbo menggunakan megaphone berorasi meminta tidak melaksanakan Salat Id di ruang terbuka.
2. Pukul 07.05 WIT, saat memasuki Takbir ke 7 Salat Id, sekelompok massa dari Pdt. Marthen Jingga dan sdr. Harianto Wanimbo mulai berdatangan dan melakukan aksi pelemparan batu dari bandara Karubaga dan luar lapangan Makoramil 1702-11/karubaga. Mereka meminta kegiatan Salat Id dihentikan. Terjadi kepanikan jamaah yang melaksanakan Salat Id.
3. Pukul 07.10 WIT massa mulai aksi pelemparan batu dan perusakan kios yang berada di dekat musala baitul mutaqin.
4. Pukul 07.20 WIT aparat keamanan berusaha membubarkan massa dengan mengeluarkan tembakan. Namun massa semakin bertambah dan melakukan pelemparan batu kepada aparat keamanan.
5. Pukul 07.52 WIT massa yang merasa terancam dengan tembakan peringatan dari aparat keamanan melakukan aksi pembakaran kios yang berada di dekat masjid.
6. Pukul 08.30 WIT api yang sudah membesar merambat ke masjid.
7. Pukul 08.53 WIT bangunan kios-kios dan masjid rata terbakar.
8. Pukul 09.10 WIT massa kembali berkumpul di ujung bandara karubaga.
Sumber: merdeka.com
|
|
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !