| PIYUNGAN ONLINE Portal Berita, Politik, Dakwah, Dunia Islam, Kemasyarakatan, Keumatan | Jaga Toleransi, Masjid Tolikara Dibuat Menyerupai Gereja | | 8:40:23 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
|  | | Masjid Baitul Muttaqin Karubaga Tolikara, sebelum terjadi Tragedi Idul Fitri (foto: istimewa) |
Seorang pengurus Masjid Baitul Mutaqin di Tolikara menceritakan awal mula berdirinya Masjid tersebut sebelum akhirnya terbakar akibat amuk massa pada Jumat lalu. Pengurus itu mengaku pernah tinggal di Masjid selama kurang lebih empat tahun. "Sekitar 2005 hingga 2008 saya tinggal di Masjid itu belum pernah ada kerusuhan," ujar Djon, menolak menyebutkan nama lengkapnya, ketika dihubungi Tempo, Selasa, 21 Juli 2015.
Masjid Baitul Mutaqin, kata dia, dibangun sekitar tahun 1990-an. Menurutnya, selama itu, tidak ada kerusuhan yang pernah terjadi. Kerusuhan baru terjadi pertama kali saat umat muslim Tolikara tengah melaksanakan salat Idul Fitri pada Jumat lalu.
Sebagai minoritas, pria itu mengakui jika ingin melakukan ibadah selayaknya tidak mengganggu umat Gereja Injil di Indonesia (GIDI) yang mendominasi Tolikara. Salah satunya dengan tidak membuat kubah di atas Masjid Baitul Mutaqin. "Kita selalu menjaga supaya jangan terlalu kelihatan mencolok ketika beribadah. Mereka (GIDI) sudah menerima. Mereka enggak melarang," ujarnya.
Selain itu,kata dia, pada saat adzan juga tidak menggunakan pengeras suara yang dapat mengganggu masyarakat sekitar.
Masjid tersebut, kata dia, memang sengaja tidak dipasangi kubah agar tidak terlihat begitu menonjol menyerupai bangunan masjid. Bahkan, masjid itu juga sengaja dicat hitam layaknya tanda misionaris. Hal tersebut, kata dia, sengaja dilakukan supaya tidak menimbulkan kekhawatiran di tengah jamaah GIDI sehingga umat muslim bisa tetap menjakankan ibadah. "Jadi dibikin menyerupai rumah supaya tidak terlalu mencolok dan tidak mengundang perhatian. Yang penting kita bisa ibadah," ujarnya.
Pada 2007, kata dia, pernah dibuat petunjuk arah yang memberitahukan jalan menuju masjid dan papan nama masjid. Sayangnya, hal tersebut tak disetujui oleh warga GIDI setempat. "Akhirnya papannya kami pasang di depan pintu masjid saja," ujarnya.
Menurut pria tersebut, jamah GIDI di Tolikara sudah sangat mentolerir keberadaan umat muslim di sana dibanding beberapa daerah lain seperti di distrik Bokondini. Misalnya, pada hari Minggu diperingati sebagai hari ibadah jamaah GIDI dan semua kios-kios wajib ditutup selama seharian. Namun, jamaah GIDI mengizinkan umat muslim untuk menutup kios setengah hari saja. "Kita diperbolehkan buka kios jam 12," ujar dia.
Kerusuhan Tolikara bermula ketika pada Jumat pagi, 17 Juli 2015, sekelompok warga jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) memprotes pelaksanaan salat Idul Fitri di halaman masjid, yang terletak di dekat tempat penyelenggaraan Seminar dan Kebaktian Kebangunan Rohani Injili Pemuda.
Polisi kemudian melontarkan tembakan ke arah jemaat GIDI. Akibatnya, sebelas orang terluka dan satu anak tewas. Tembakan ini memancing kemarahan lebih besar. Jemaat GIDI mulai menyerang dan membakar rumah serta kios di dekat lokasi salat Idul Fitri. Api kemudian merembet ke masjid.
Saat kebakaran meluas, warga muslim Tolikara berusaha menyelamatkan diri. Salat Idul Fitri terpaksa dibatalkan. Enam rumah, sebelas kios, dan satu masjid ludes terbakar.
DEVY ERNIS
Sumber: http://nasional.tempo.co/read/news/2015/07/22/078685624/jaga-toleransi-masjid-tolikara-dibuat-menyerupai-gereja
|
| Baru 3 Hari Dibentuk, Komite Umat Untuk Tolikara Berhasil Kumpulkan Donasi Rp 1,3 Miliar | | 8:23:13 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Komite Umat untuk Tolikara (Komat Tolikara) berhasil mengumpulkan bantuan untuk masyarakat korban insiden Tolikara sebesar Rp1,3 miliar. Hal itu disampaikan oleh juru bicara Komat Tolikara, Mustofa B. Nahrawardaya, usai bertemu dengan Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo di Kantor Panglima TNI, Jakarta, seperti yang dilansir ROL, Rabu (22/7).
"Sampai hari ini, Rabu, sudah mencapai Rp1,3 miliar," ujar Mustofa.
Menurut Mustofa, hal tersebut menandakan tingginya keinginan masyarakat untuk membantu masyarakat Tolikara yang kehilangan rumah, kios, dan tempat ibadah yang diduga dibakar oleh sekelompok orang yang berasal dari Gereja Injili Di Indonesia (GIDI), yang terjadi pada hari Jumat (17/7) pagi atau tepat saat Idul Fitri 1436 Hijriah.
Adapun bantuan untuk Tolikara tersebut bisa disalurkan melalui badan amal resmi, seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). Komite Umat untuk Tolikara Papua yang dipimpin oleh Didin Hafiudin datang menemui Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo pada hari Rabu (22/7) di Kantor Panglima TNI.
Sebelumnya, Selasa (21/7), Komat Tolikara telah menerbangkan Tim Pencari Fakta (TPF) yang dipimpin oleh dai asal Papua, Fadlan Garamatan. TPF terbang ke Papua guna mengumpulkan data sebenarnya yang terjadi di Tolikara.
Komite Umat untuk Tolikara Papua terbentuk pada 19 Juli 2015 di Jakarta. Komite ini tebentuk setelah terjadi pertemuan besar para Tokoh Nasional diantaranya Arifin Ilham, Yusuf Mansur, Hidayat Nurwahid, Didin Hafidhudin, Bahtiar Nasir, Aries Mufti, Muhammad Zaitun Rasmin, dan lain sebagainya.
Pada pertemuan itu, para Tokoh sepakat menunjuk Bahtiar Nasir sebagai Ketua Harian Komite. Sementara Muhammadi Zaitun Rasmin menjabat sebagai Wakil Ketua. Sementara, Didin Hafidhudin diangkat sebagai Ketua Dewan Syura, dan Arifin Ilham, Yusuf Mansur, Hidayat Nurwahid, Bahtiar Nasir, Aries Mufti, Bobby Herwibowo menjadi anggota Dewan Syura. Nama lain diantaranya Haikal Hassan sebagai Sekretaris, Nur Effendi dan Irfan Syauqi Beik ditunjuk sebagai Bendahara. Sementara itu, Jeje Zaenuddin ditunjuk sebagai Tim Advokasi. Segudang tokoh bergabung dalam Komite diantaranya Ahmad Djuwaini, Arifin Purwakananta, Fahmi Salim, dan lain sebagainya. Dalam Komite ini, Mustofa B. Nahrawardaya dan Adnin Armas ditunjuk sebagai Juru Bicara.
*Sumber: dakwatuna, dll
untuk informasi perkembangan Tolikara follow akun twitter resmi Komite Umat untuk Tolikara -- @KomatTolikara
|
| Perdamaian Tolikara dan Penuntasan Proses Hukum | | 8:22:55 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
|
PERDAMAIAN TOLIKARA Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...
Berbagai Media Cetak dan Elektronik dengan gegap gempita dan penuh semangat berlomba-lomba memberitakan "Perdamaian Tolikara", seolah masalah telah selesai.
Kentara sekali, semua Media Liberal ingin segera menutup berita INTOLERANSI KRISTEN RADIKAL di Papua. Padahal, ketika awal kejadian semua bungkam seribu bahasa untuk menyembunyikan kebiadaban KRISTEN RADIKAL.
PROPOSAL PERDAMAIAN
Hingga saat ini, walau pun secara "seremonial" telah dilaksanakan "perdamaian" di Tolikara - Papua, namun isi proposal perdamaian tersebut masih TIDAK JELAS.
Perdamaian Tolikara harus komprehensif yaitu mencakup perdamaian dalam semua aspek kehidupan beragama dan bermasyarakat di SELURUH PAPUA, antara lain:
1. Tidak boleh lagi ada Larangan Jilbab bagi Muslimah, sebagaimana umat Kristen di wilayah mayoritas Islam tidak pernah dilarang memakai atribut kekristenan seperti Salib dan lainnya.
2. Tidak boleh lagi ada Larangan Ibadah umat Islam, sebagaimana umat Kristen di wilayah mayoritas Islam tidak pernah dilarang Kebaktian dan Natalan serta aneka ritual lainnya.
3. Tidak boleh lagi ada Larangan Penggunaan Speaker di DALAM MASJID, sebagaimana Gereja di wilayah mayoritas Islam tidak pernah dilarang memakai Speaker di DALAM GEREJA, walau suara lonceng, piano dan gitar serta kuur paduan Suara Gereja sering terdengar keras hingga keluar Gereja.
4. Tidak boleh lagi ada Larangan Pemasangan Plank Nama Masjid dan Musholla serta Madrasah, sebagaimana umat Kristen di wilayah mayoritas Islam tidak pernah dilarang memasang Plank Nama Gereja dan Sekolah Kristen, serta Lambang Salib dan Patung Yesus mau pun Bunda Maria.
5. Tidak boleh lagi ada pagelaran acara Keagamaan Kristen yang mengganggu pelaksanaan ibadah umat Islam di Masjid mau pun Musholla di Hari Besar umat Islam, seperti saat pelaksanaan Shalat Jum'at dan Shalat Hari Raya, sebagaimana umat Islam di wilayahnya sendiri pun tidak pernah menggelar Tabligh Akbar atau Majelis Dzikir di depan Gereja saat ada Kebaktian atau Natalan.
Intinya, tidak boleh lagi ada INTOLERANSI dan DISKRIMINASI serta INTIMIDASI terhadap umat Islam dalam bentuk apa pun, sebagaimana umat Kristen di wilayah mayoritas Islam bisa hidup tenang TANPA PENINDASAN.
Jika kelima perkara di atas tidak dituangkan dalam Proposal Perdamaian Tolikara, maka itu sama saja dengan PEMBODOHAN dan PENIPUAN serta PENGKHIANATAN terhadap umat Islam, sehingga WAJIB DITOLAK.
DAMAI BUKAN PEMUTIHAN
Proposal Perdamaian Tolikara tidak boleh menjadi PEMUTIHAN bagi Para Perusuh dari kalangan Kristen Radikal, sehingga Perdamaian tersebut tetap harus menjamin:
1. Penuntasan PROSES HUKUM terhadap SEMUA Perusuh.
2. Penangkapan Pdt.Marthen Jingga dan Pdt.Navus Wenda yang telah menanda-tangani Surat Edaran Pelarangan Jilbab dan Shalat Idul Fithri tertanggal 11 Juli 2015.
3. Pengembalian 243 Pengungsi yang 100 di antaranya adalah BALITA, ke rumah mereka dengan aman dan nyaman, serta harus ada GANTI RUGI bagi semua korban yang terluka atau kehilangan harta benda.
4. Pembangunan kembali Masjid dan Kios serta Rumah Umat Islam yang menurut Data Terakhir ada 49 Kios dan beberapa Rumah muslim yang terbakar.
5. Keamanan penggunaan semua Masjid dan Musholla se Papua, khususnya Penggunaan kembali Masjid Baitul Muttaqin Tolikara yang memang sudah ada sejak tahun 1945, sehingga sudah seusia dengan Kemerdekaan Indonesia dan sudah sepatutnya dijadikan sebagai MASJID RAYA TOLIKARA.
Jika tidak ada jaminan untuk kelima perkara tersebut, maka sama sekali tidak ada makna bagi Perdamaian tersebut, sehingga umat Islam TIDAK BOLEH menerimanya.
ANDAIKAN FPI ... ???
Sekedar pertanyaan ingin tahu: Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah RI dan segenap Media Liberal, serta semua LSM Komprador dan Lembaga HAM dalam mau pun luar negeri, ANDAIKAN FPI menerbitkan Surat Edaran Resmi ditanda-tangani Ketum dan Sekumnya yang berisikan "Peraturan Wilayah Mayoritas Muslim", dengan rincian aturan sebagai berikut:
1. Tidak boleh ada umat Kristen yang memakai atribut kekristenan seperti Salib dan lainnya.
2. Tidak boleh ada Kebaktian dan Natalan serta aneka ritual Kristen lainnya.
3. Tidak boleh ada speaker, lonceng, piano, gitar dan paduan suara serta pidato di DALAM GEREJA.
4. Tidak boleh ada Pemasangan Plank Nama Gereja dan Nama Sekolah Kristen, serta Pemasangan Lambang Salib dan Patung Yesus mau pun Bunda Maria.
5. Tidak boleh ada pagelaran acara Keagamaan Kristen dalam bentuk apa pun, karena umat Islam diserukan untuk menggelar Tabligh Akbar atau Majelis Dzikir di depan Gereja setiap ada Kebaktian atau Natalan.
INTINYA: Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah RI dan segenap Media Liberal, serta semua LSM Komprador dan Lembaga HAM dalam mau pun luar negeri, ANDAIKAN FPI menyerukan umat Islam di seluruh Tanah Air agar menumbuh-suburkan sikap INTOLERANSI dan DISKRIMINASI serta INTIMIDASI terhadap umat Kristen dimana pun mereka berada ... ???!!!
Muhammad Rizieq Syihab Imam Besar FPI
*Sumber: http://www.habibrizieq.com/2015/07/perdamaian-tolikara.html
|
| Difitnah "Wahabi", Imam Masjid Tolikara Ternyata Warga NU Biasa Tahlilan | | 8:22:44 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Alawi Nurul Alam, pada 21 Juli 2015 menulis di wall facebooknya sebagai berikut (lihat gambar):
Assalamualaikum wr. Wb. Baru saja saja menelfon ke kawan kyai NU saya yg berada di dekat Torikala (yg benar Tolikara -red) Papua untuk menanyakan kejadian sebenarnya. Dan beliau mengatakan bahwa di Torikala (salah lagi, harusnya Tolikara -red) tidak ada komunitas NU apalagi Syiah, yg ada di dana adalah komunitas Wahabi Hidayatullah yg semenjak mereka berada di sana sudah sering terjadi gesekan dengan penduduk asli Papua dan akhirnya terjadilah seperti sekarang ini. Hal ini menjadi bukti bahwa Wahabi dimanapun berada selalu menjadi awal peperangan, dan semua aktifitas wahabi Hidayatullah diback-up oleh PSK\HTI (waduh, PKS disebut "PSK" -red). Itulah berita yang bisa saya dikabarkan saat ini. Mohon di share
***
Ditengah keprihatinan atas Tragedi Tolikara yang menimpa Umat Islam Papua, masih saja ada yang tega memfitnah mereka. Bukannya galakan solidaritas dan bantuan untuk muslim Tolikara, Alawi Nurul Alam malah menebar fitnah.
Namun, fitnah ini terbantahkan oleh penuturan imam Masjid Baitul Muttaqien Tolikara, Haji Ali Muktar (38) saat diwawancarai oleh reporter Hidayatullah.com pada Rabu (22/7/2015) kemarin.
Berikut kutipan pernyataan saat diwawancarai reporter Hidayatullah.com.
RABU (22/07/2015) ini adalah hari kelima bagi Ustad H. Ali Muktar (38) dan warga Muslim, Karubaga Kabupaten Tolikara bertahan di pengungsian. Aksi serangan kelompok perusuh saat hari Raya Idul Fitri, Jumat (17/07/2015) lalu, masih menyisahkan luka mendalam bagi korban.
Ali Muktar adalah salah satu imam Masjid Baitul Muttaqien Tolikara, sekaligus salah saksi dalam aksi penyerangan kelompok perusuh yang berakibat pembakaran kios dan masjid. Di bawah ini, obrolan hidayatullah.com dengannya.
Apakabar Pak Ali?
Alhamdulillah, baik pak
Apasaja kegiatan Masjid Baitul Muttaqien sebelum dibakar?
Ya banyak. Yang jelas, shalat jamaah tiap hari, pengajian rutin, peringatan hari besar Islam, peringatan Maulid Nabi, pengajian umum hingga pembinaan anak-anak Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ).
Bulan Ramadahan ini, kami mendatangkan penceramah dari Jawa. Di sini ada kesepakatan, tiap Ramadhan mendatangkan penceramah secara bergantian dari berbagai daerah di Indonesia. Tahun lalu dari Sulawesi.
Selain itu kegiatan kegamaannya apa lagi?
Alhamdulillah, kita ada majelis ta'lim ibu-ibu yang digabung dengan ibu-ibu Bhayangkari (organisasi persatuan istri anggota Polri). Selain itu ada tahlil di rumah-rumah tiap hari Jumat dan tiap bulan sekali di masjid.
Memang kalau Subuh kebiasaan di sini pakai qunut atau tidak?
Saya biasa pakai. Tapi di sini ukhuwah tinggi pak. Karena kami mungkin pendatang dan kaum Muslim datang dari berbagai kalangan. Jadi kami tak pernah mempersoalkan qunut atau tidak. Sebagai imam saya biasa pakai qunut, tetapi banyak juga makmum tidak ikut, ya tidak masalah.
Bapak sendiri latar belakang pendidikannya apa?
Saya tidak memiliki latar belakangan nyantri. Hanya mustami'in biasa. Keluarga saya Nahdhatul Ulama (NU), ibu saya Musyawaroh (asli Lumajang) sedang bapak Hendri J Karaeng (asli Makassar). Ayah bekerja di Tanjung Perak, tetapi saya banyak dibesarkan di desa Pusrwosono,Kecamatan Sumber Suko, Lumajang. Sejak kecil saya terbiasa diajak orangtua berkunjung ke pesantren. Itu saja yang menjadi bekal saya.
(Wawancara selengkapanya: http://www.hidayatullah.com/berita/wawancara/read/2015/07/23/74456/74456.html)
|
| "Jumat Solidaritas Untuk Muslim Papua", Ulama Serukan Khatib Jumat Tema Seragam | | 8:22:26 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| HARI INI SEPEKAN YANG LALU, TEPAT DI HARI IDUL FITRI... TRAGEDI ITU TERJADI
Para Ulama dan intelektual muslim yang tergabung dalam MIUMI (Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia) menyerukan hari Jumat (24/07) sebagai hari solidaritas umat Islam Papua.
Dalam siaran pers yang diterima redaksi, MIUMI mengutip pernyataan ustad Bachtiar Natsir Ketua KOMAT Tolikara yang mengatakan, "Tragedi Tolikara adalah bentuk kejahatan terhadap kemanusiaan, petaka terhadap kerukunan hidup beragama, serta bibit ancaman yang meneror keutuhan NKRI. Untuk itu langkah hukum oleh aparat perlu secepat mungkin diambil untuk membongkar dan menangkap otak dalang di balik tragedi tersebut."
Tragedi Tolikara yang pecah di Jumat 17 Juli 2015 pagi harus dipandang tak sekedar sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan, namun lebih jauh merupakan petaka terhadap kerukunan hidup beragama di Indonesia dan bara dalam sekam yang meneror keutuhan NKRI.
Seperti yang telah sama-sama kita pahami, pagi itu tak kurang dari 500 orang tak dikenal secara tiba-tiba melempari jamaah shalat Ied di halaman masjid Baitul Muttaqien Koramil setempat. Aparat hukum telah berupaya mengamankan situasi, namun aksi kekerasan semakin meluas eskalasinya. Akibatnya tak kurang dari 64 kios terbakar, serta Masjid Baitul Muttaqin yang merupakan tempat ibadah bagi umat muslim setempat pun terkena rembetan jalaran api. Ratusan warga mengungsi, banyak diantaranya adalah perempuan dan balita.
Menyikapi hal tersebut, MIUMI menetapkan hari Jumat ini sebagai "Jumat Solidaritas untuk Muslim di Papua dan Soliditas Umat untuk Integritas NKRI".
MIUMI harapkan semua khatib di seluruh Indonesia menyuarakan tema di atas sebagai tema khutbah Jumat. Diharapkan semua pengurus/takmir masjid menitipkan tema tersebut kepada khatib Jumat hari ini, 24 Juli 2015.
MIUMI juga mengajak umat Islam menggalang donasi untuk korban insiden Tolikara dan pembangunan masjid di Tolikara, Papua ke Rek Dompet Dhuafa (BCA 237 78 78 783) Rumah Zakat (mandiri 132 000 481 9745) BAZNAS BRI Syariah 100 0782. 854).
Siaran pers MIUMI ini dikirimkan kepada redaksi oleh ketua KH. Fahmi Salim, Lc. MA. dan sekertaris H. Ir. Haikal Hassan, SKom, MMt.
|
| Tragedi Tolikara, Ustad Yusuf Mansur: Kita Ambil Sisi Positifnya | | 8:22:12 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
| Kasus Tolikara, Ustad Yusuf Mansur: Kita Ambil Sisi Positifnya
Ustad Yusuf Mansur mengingatkan bahwa manusia hebat adalah mereka yang dapat mengubah suatu masalah menjadi peluang.
"Ya, menurut saya, orang yang paling hebat dan luar biasa ialah orang yang dapat mengubah masalah bisa menjadi peluang. Mudah-mudahan kita bisa jadi orang yang hebat dan luar biasa, yang bisa mengubah yang jelek menjadi lebih baik," kata Yusuf, di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (23/7/2015).
Khusus terkait kasus Tolikara, Yusuf mengatakan bahwa umat Islam harusnya dapat mengambil sisi positifnya. Dia mencontohkan hal positif itu yakni soal pengetahuan baru adanya umat Muslim yang bermukim di Tolikara.
"Sekarang, lebih baik kita ambil sisi positifnya. Kita jadi tahu ada Tolikara, dan ada umat Muslim di sana. Mudah-mudahan bisa duduk antara umat beragama lebih intens. Mungkin pihak kami kurang berdekatan dengan teman-teman lain," tambahnya.
Saat disinggung soal siapa kira-kira menurutnya dalang di balik kasus Tolikara, Yusuf mengaku belum tahu. Dia juga tidak mau menduga-duga dan menyerahkan kasus tersebut ke pihak yang berwenang.
"Kita belum dapat informasi siapa yang bermain. Kita tunggu aja dari Kapolri dan Panglima (TNI). Jadi, kita tidak mau spekulasi di sini," tandasnya.
Sumber: http://www.suara.com/news/2015/07/23/203500/kasus-tolikara-ustad-yusuf-mansur-kita-ambil-sisi-positifnya
***
Ustad Yusuf Mansur bersama beberapa ulama dan tokoh nasional (Arifin Ilham, Aa Gym, Hidayat Nur Wahid, dll) telah membentuk Komite Umat untuk Tolikara yang menyatukan potensi Umat untuk membantu pemulihan pasca Tragedi Tolikara. Komite Tolikara sudah mengirim Tim Pencari Fakta ke Tolikara yang dipimpin da'i Papua ustad Fadlan Garamatan. Komite juga sudah dan terus menggalang dana untuk pembangunan kembali Masjid Baitul Muttaqin, rumah dan kios yang habis kebakar. Sampai saat ini sudah Rp 1.3 Miliar dana yang berhasil digalang Komite Tolikara.
|
| [Tragedi Tolikara] Memuji Kedewasaan Umat Islam | | 8:22:00 PM | PIYUNGAN ONLINEhttps://plus.google.com/114751447713313717725noreply@blogger.com |
|
Memuji Kedewasaan Umat Oleh: Nasihin Masha (Pemred Republika)
Banyak hikmah yang bisa diambil dari tragedi Tolikara, Papua. Upaya menggagalkan shalat Idul Fitri, Jumat (17/7), oleh orang-orang Kristen berakhir dengan tragedi. Mereka melempari umat Islam yang sedang bersiap melaksanakan shalat di halaman Koramil setempat. Mereka terus bergerak merangsek. Polisi yang berjaga segera mengamankan. Awalnya melakukan tembakan peringatan, kemudian melakukan tembakan ke massa yang menyerbu.
Ada 11 yang luka-luka dan seorang remaja meninggal dunia. Massa juga membakar kios-kios, ada 54 kios, yang juga melumat Masjid Baitul Muttaqin. Sebagian besar kios milik umat Islam, sebagian lagi milik umat Kristen.
Kejadian itu menimbulkan trauma. Ratusan warga yang mengungsi tinggal di tenda-tenda di kawasan Koramil. Para pengungsi itu adalah pemilik kios yang juga dijadikan sebagai tempat tinggal maupun warga yang trauma. Ada ketakutan.
Bagi umat Islam, kejadian ini seolah mengulang kerusuhan Ambon. Saat itu, 19 Januari 1999, juga hari pertama Idul Fitri. Umat Islam, terutama yang bukan berdarah Ambon, meninggalkan Maluku. Banyak korban jiwa dari umat Islam.
Aparat keamanan yang dalam keadaan lemah -dampak gerakan reformasi dan transisi rezim- tak mampu mengendalikan situasi. Hal itu mengundang hadirnya Laskar Jihad dari wilayah lain. Akhirnya Ambon menjadi medan pertempuran sipil. Kerusuhan juga meluas ke pulau-pulau lain di kepulauan Maluku.
Kini, Indonesia dalam keadaan damai. Memang sejak Pemilu 2014 politik nasional memanas. Pemerintahan agak lemah karena tak menguasai mayoritas di parlemen dan tak punya kendali di partai. Namun, aparat keamanan dalam kondisi terkonsolidasi dengan baik. Tindakan tegas polisi patut dipuji. Jika sampai tak terkendali, situasinya bisa eskalatif menjadi rusuh di berbagai tempat lain.
Memang patut dipertanyakan mengapa tak menggunakan gas air mata ataupun water canon. Apakah tak tersedia? Juga patut dipertanyakan efektivitas pemda dalam cegah dini.
Tragedi ini berawal dari surat Gereja Injili di Indonesia (GIDI). Gereja ini lahir di Tolikara. Namun, memiliki jaringan yang luas di Papua, terutama menguasai wilayah tengah Papua dan pegunungan. Bahkan, memiliki cabang di berbagai wilayah di Indonesia. Gereja ini termasuk besar. Pengaruhnya di bidang politik juga cukup kuat, setidaknya ada delapan bupati dan seorang gubernur yang menjadi jemaat GIDI. Dalam hal ini bahkan ormas-ormas Islam yang besar pun tak memiliki anggota organiknya sebanyak itu yang menduduki jabatan kepala daerah.
GIDI wilayah Tolikara berkirim surat agar shalat Id tak dilakukan di lapangan, tidak menggunakan speaker, dan tidak mengenakan jilbab. Pada saat bersamaan, ada Seminar dan Kebaktian Kebangunan Rohani Pemuda GIDI. Pesertanya tak hanya dari Papua, tapi juga dari seluruh cabang GIDI di Indonesia serta utusan dari luar negeri.
Surat itu ditujukan ke bupati, polisi, dan pihak-pihak terkait lainnya. Karena itu, mereka membahas surat tersebut. Umat Islam tetap melaksanakan shalat di lapangan. Masjid itu terlalu kecil, tak mampu menampung jamaah shalat Id. Akhirnya terjadilah aksi itu. Shalat Id yang setiap tahun dilaksanakan di lapangan itu berubah menjadi malapetaka.
Di media terjadi sengkarut informasi. Masjid disebut mushala. Surat dikatakan palsu. Rusuh karena faktor speaker. Sumbernya tentu dari pejabat tinggi negeri ini. Umat menjadi resah. Seolah ada pengerdilan, pengabaian, bahkan dipersalahkan. Namun, selalu ada pejabat-pejabat yang sehat dan tetap jernih sehingga bisa menjadi rujukan dan memberikan kepastian. Pemerintah juga bertindak cepat untuk mendamaikan dan akan membangun kembali masjid dan kios yang hangus. Kapolri, Mendagri, dan Mensos bertandang ke Tolikara.
Pada sisi lain, umat Islam yang selama ini dikenal mudah terprovokasi dan mudah menjadi buih mampu bertindak dewasa. Imbauan untuk tak terprovokasi dan tenang terus didengungkan. Para ulama dan pemimpin umat segera berkonsolidasi menentukan langkah bersama. Semuanya berpikir solutif dan konstruktif, di antaranya dengan membentuk Komite Umat untuk Tolikara (Komat). Mereka fokus untuk menyantuni, mendampingi, dan membangun kembali rasa percaya diri umat di Tolikara.
Dengan semangat keindonesiaan dan persatuan, mereka fokus pada tugas sosial dan keagamaan. Tentu mereka memegang janji pemerintah untuk menegakkan hukum dan menangkap dalangnya. Kasus ini, seperti disampaikan petinggi kepolisian, ada dimensi politiknya. Ini bukan semata isu agama, melainkan juga berdimensi isu integrasi nasional.
Kesigapan para ulama dan pemimpin umat ini juga agar jangan sampai tragedi Tolikara ini dimanfaatkan oleh sel-sel teroris yang lagi tidur untuk bangun memanfaatkan momentum. Juga untuk mencegah kelompok-kelompok garis keras untuk bertindak anarki. Itu pun tetap menimbulkan letupan-letupan di gereja GIDI di Solo maupun gereja lain di Purworejo dan Bantul.
Kasus Tolikara harus menjadi hikmah dan momentum bagi umat untuk berkiprah secara lebih baik lagi dalam masalah keumatan dan kebangsaan. Indonesia adalah milik seluruh elemen, bukan milik kelompok tertentu. Dari ujung timur hingga ujung barat, dari ujung utara hingga ujung selatan. Indonesia akan mudah maju dan sejahtera jika seluruh elemen bersatu dalam semangat proklamasi. Segala perbedaan harus menjadi kekuatan, bukan menjadi titik lemah. Semakin banyak unsur semakin indah paduannya.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/kolom/resonansi/15/07/23/nry81j319-memuji-kedewasaan-umat
|
|
0 comments:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !